Apakah Ayahmu Seperti Ini?

on Rabu, 12 Oktober 2011


Dalam suatu kereta seorang pemuda bertanya pada seorang bapak
disampingnya, "Jam berapa sekarang Pak ? "

Sungguh diluar dugaan , si Bapak diam saja , menoleh pun tidak. Mengira
sang bapak tidak mendengar, pemuda tsb. mengulanginya sampai 3 kali,
namun si Bapak diam tidak bergeming sedikitpun.

Merasa kesal , si pemuda akhirnya mencolek bapak tsb. dan berkata "Saya
heran mengapa bapak tidak menjawab pertanyaan saya ??, apa sih susahnya"
katanya sambil melengos.
Belum habis dia melengos, si bapak mulai berbicara "Bukannya saya nggak
mau menjawab, tapi nanti kalau saya jawab , kita pasti ngomong-ngomong
soal ini , soal itu , terus nanti kita jadi akrab"

Si pemuda melongo mendengar ceramah si bapak, " Lalu apa salahnya kalau
kita akrab ?"
Si bapak menjawab "Nanti anak gadis dan istri saya akan menjemput saya
di Gambir, kalau kita sudah akrab, nanti kita akan turun sama -sama ,
terus saya pasti memperkenalkan mereka sama kamu. Nah, istri saya tuh
orangnya baik sekali sama semua orang , nanti dia pasti menawarkan kamu
mampir kerumah, nanti kamu mandi dirumah saya, terus makan dirumah saya, kemudian kamu lama-lama bisa akrab dengan anak gadis saya dan kamu
bisa jadi pacar anak saya dan lama-lama kamu bisa jadi menantu saya."

Sang pemuda yang tadi sudah bingung sekarang makin bingung, lantas dia
bertanya "Terus apa hubungannya dengan pertanyaan saya yang pertama ?"
Sambil berdiri dengan lantang bapak tersebut menjawab "Masalahnya anak
muda, SAYA TIDAK MAU PUNYA MENANTU SEPERTI KAMU, JAM TANGAN AJA NGGAK
PUNYA , BAGAIMANA MAU MEMBAHAGIAKAN ANAK SAYA ?? "


::Berbagai Sumber::

Koin Penyok



Seorang lelaki berjalan tak tentu arah dgn rasa putus asa. Kondisi finansial keluarganya morat-marit.

Saat menyusuri jalanan sepi, kakinya terantuk sesuatu. Ia membungkuk dan menggerutu kecewa. “Uh, hanya sebuah koin kuno yg sudah penyok.” Meskipun begitu ia membawa koin itu ke bank.

“Sebaiknya koin in dibawa ke kolektor uang kuno,” kata teller itu memberi saran. Lelaki itu membawa koinnya ke kolektor. Beruntung sekali, koinnya dihargai 30 dollar.

Lelaki itu begitu senang. Saat lewat toko perkakas, dilihatnya beberapa lembar kayu obral. Dia pun membeli kayu seharga 30 dollar utk membuat rak buat istrinya. Dia memanggul kayu tersebut dan beranjak pulang.

Di tengah perjalanan dia melewati bengkel pembuat mebel. Mata pemilik bengkel sudah terlatih melihat kayu bermutu yg dipanggul lelaki itu. Dia menawarkan lemari 100 dollar utk menukar kayu itu. Setelah setuju, dia meminjam gerobak utk membawa pulang lemari itu.

Di tengah perjalanan dia melewati perumahan baru. Seorang wanita melihat lemari yg indah itu dan menawarnya 200 dollar. Lelaki itu ragu-ragu. Si wanita menaikkan tawarannya menjadi 250 dollar. Lelaki itupun setuju dan mengembalikan gerobaknya.

Saat sampai di pintu desa, dia ingin memastikan uangnya. Ia merogoh sakunya dan menghitung lembaran bernilai 250 dollar. Tiba-tiba seorang perampok keluar dari semak-semak, mengacungkan belati, merampas uang itu, lalu kabur.

Istrinya kebetulan melihat dan berlari mendekati suaminya seraya bertanya, “Apa yg terjadi? Engkau baik saja kan? Apa yg diambil oleh perampok tadi?”

Lelaki itu mengangkat bahunya dan berkata, “Oh, bukan apa-apa. Hanya sebuah koin penyok yang kutemukan tadi pagi”.

Demikianlah Allah telah mengatur hak-hak kita.... Bila kita sadar kita tak pernah benar2 memiliki apapun, kenapa saat kehilangan kita harus tenggelam dalam kepedihan yang berlebihan?
Bersyukurlah dgn apa yg kita miliki saat ini

::Sumber Milis::

Humor 17'an

on Selasa, 16 Agustus 2011


Suatu ketika ada orang Madura yg terkenal gokil, mengikuti lomba nyanyi tentang lagu Hari Kemerdekaan;

orang Madura; "Enam belas Agustus tahun empat lima ..."

Juri; "Salah itu ... ulangi !"

orang Madura; "Enam belas Agustus tahun empat lima ..."

Juri : "Salah ... kesempatan terakhir !"

Orang Madura; "Saya ndak salah pak, sampeyan dengar saya nyanyi dulu."

Akhirnya juri serius mendengarkan.

orang Madura; "Enam belas Agustus tahun empat lima...

BESOKNYA hari Kemerdekaan kita..."




Juri ; ?????




Just Kidding n' enjoy the Moment...






::sumber; Milis

Kisah Raja Yang Bijaksana

on Sabtu, 13 Agustus 2011




Ditulis pada Agustus 6, 2011
Oleh Komaruddin Hidayat









Alkisah, hidup seorang raja kaya raya dan dicintai rakyat, tetapi sudah mulai uzur sehingga harus menyerahkan takhta kerajaan kepada calon putra mahkotanya. Namun, raja ragu. Benarkah putranya sudah siap menerima tugas berat dan muliaitu?

Untuk menepis keraguan itu, Sang Raja ingin menguji putranya apakah layak dipercaya untuk memikul beban yang begitu berat sebagai calon penggantinya. Maka dipanggillah dia, dinasihati dan diberi tahu bahwa takhta kerajaan ini akan segera dilimpahkan kepadanya. Namun, sebelum itu, Sang Raja menyuruh putranya bersemadi dan tinggal di hutan setahun.

Tiba hari yang ditetapkan, berangkatlah putra mahkota itu dengan bekal dan pengawal sekadarnya. Dalam bulan-bulan pertama dia bingung. Apa yang sesungguhnya dikehendaki oleh ayahnya dan apa yang mesti dilakukan di hutan?
Maka, selain bersemadi, dia juga mengamati berbagai ragam pohon dan hewan penghuni hutan sehingga mengenal beragam buah-buahan dan rasanya. Dia pun mengenal aneka hewan dan suaranya serta jenis makanannya.

Putra mahkota tadi menghitung hari dan bulan, kapan saatnya kembali ke kerajaan menghadap ayahnya lalu dinobatkan di depan rakyat sebagai raja. Singkat cerita, setelah genap setahun, putra mahkota pulang dengan gembira, membayangkan pesta pengangkatan sebagai raja muda yang akan dikelilingi oleh wanita-wanita cantik serta pengawal yang selalu melayani dan menjaganya.

Setiba di kerajaan, setelah istirahat dan beradaptasi dengan kehidupan di lingkungan istana, ayahnya memanggil dan bertanya, ”Coba ceritakan kepadaku pengalaman apa yang kau dapatkan setelah setahun bermeditasi dan tinggal di hutan.” Putra mahkota menjawab dan menjelaskan panjang lebar tentang beragam tumbuhan dengan aneka ragam bunga dan buahnya serta rasanya. Selain itu, aneka ragam hewan, dari warnanya, makanannya, hingga suaranya.

Setelah selesai menceritakan pengalamannya dengan semangat dan panjang lebar, ayahnya berkata, ”Engkau mesti pergi lagi setahun tinggal di hutan. Aku belum yakin engkau akan mampu menerima amanat sebagai raja menggantikan diriku. Minggu depan engkau mesti pergi lagi.”

Dengan hati gundah dan pikiran bingung, putra mahkota pergi lagi ke hutan. Dia berpikir keras, apa yang kurang dan apa yang dikehendaki ayahnya sehingga dirinya mesti kembali lagi hidup di hutan. Sesampai di hutan dia melakukan meditasi dan perenungan kemudian mengisi hari-harinya dengan menikmati udaranya yang sejuk dan bau harum bunga serta mendengarkan suara berbagai hewan.

Pada tahun kedua ini, dia lebih jeli. Semakin tajam mata, telinga, dan intuisinya mengamati serta membaca apa pun yang ada di sekitarnya. Sampai-sampai dia mampu memahami bahasa hewan dan tumbuhan-tumbuhan serta isyarat alam. Bahkan, ia sudah mampu membaca tanda-tanda kalau akan terjadi bencana alam. Merasa sudah menyatu dengan alam, putra mahkota tadi semakin betah dan tidak berpikir lagi hendak pulang ke istana. Sampai-sampai setelah setahun berlalu, karena putranya belum juga pulang, sang ayah mengirim utusan untuk menjemputnya.

Banyak topeng di istana
Setelah cukup istirahat, Sang Raja bertanya kepada anaknya yang diharapkan menjadi peng- gantinya mengenai pengalaman apa saja yang didapat setelah dua tahun tinggal di hutan. Maka, sang anak pun bercerita panjang lebar bahwa pada tahun kedua tersebut dia semakin betah di hutan karena merasa telah menyatu dengan semua penghuni hutan. Bahkan, dia sudah memahami semua bahasa hewan, tumbuh-tumbuhan, air, api, serta angin.

Wajah sang ayah pun menjadi ceria karena merasa berhasil mempersiapkan calon pengganti raja. ”Ketahuilah anakku,” kata sang ayah, ”menjadi pemimpin itu harus mampu mendengarkan apa yang tidak terucapkan. Mampu melihat apa yang tidak terlihat. Mampu membaca apa yang tidak tertulis. Kalau kamu sudah mampu membaca dan mendengarkan suara serta perilaku alam, itu merupakan modal besar bagimu untuk menjadi pemimpin di negeri ini.”

”Ketahuilah anakku,” tutur sang ayah, ”dari zaman ke zaman antara istana dan rakyat itu selalu terdapat tembok yang membatasi sehingga, jika kamu tidak memiliki ketajaman hati, pikiran, dan intusisi, kamu tidak akan memahami apa yang tengah dirasakan dan dipikirkan rakyatmu. Kamu tidak akan paham apakah rakyatmu mencintaimu atau membencimu.”
”Ketahuilah anakku,” ujar sang ayah lagi, ”istana itu ibarat gudang madu dan segala makanan yang enak, yang mengundang semut, tikus, dan berbagai hewan akan mendekat untuk ikut menikmatinya. Ingat dan pegang teguh pesanku ketika suatu saat kamu telah duduk menggantikan posisiku.”

”Tidak semua yang ada di sekelilingmu adalah teman setiamu karena teman sejati baru akan ketahuan ketika kamu menangis, ketika kamu dalam bahaya, bukannya ketika kamu senang-senang berpesta ria. Orang-orang di sekelilingmu akan selalu memuji kamu sehingga kamu jarang mendengarkan kritik serta kata tidak di istana ini.”

”Asah terus ketajaman mata, telinga, pikiran, dan kebeningan hati yang telah engkau latih selama kamu tinggal di hutan belantara karena di istana akan kamu temui orang-orang yang bertopeng sehingga kamu harus mampu membaca hati dan pikiran yang tersembunyi di belakangnya.”

Mendengar nasihat sang ayah, putra mahkota baru menyadari betapa orangtuanya sangat bijak serta sangat mencintai negeri dan rakyatnya. Di balik pakaian kebesarannya sebagai raja, ayahnya ternyata memiliki hati yang sangat lembut, yang mudah tersayat ketika melihat dan mendengar rakyatnya menangis karena sakit atau lapar.

Rupanya ayahnya juga sering mengenakan topeng, pergi menyamar mendengarkan obrolan rakyatnya dari dekat karena apa yang dilihat dan didengarkan di istana sangat jauh berbeda daripada realitas di luarnya.

Semoga puasa Ramadhan ini akan mempertajam kembali pancaran hati nurani kita, terutama bagi siapa pun yang hendak atau tengah memegang jabatan sebagai pemimpin di negeri ini.
Komaruddin Hidayat
Rektor UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta







:: Sumber : Milis Yg Penulis Ikuti

Ayah Menggendong Mayat Anaknya Dari RSCM Ke Bogor Karena Tak Mampu Bayar Ambulance !!

on Rabu, 06 Juli 2011

Dear Naturalist,,
Sebuah Kisah yang sangat dramatis dan Mengharukan telah terjadi ditengah-tengah kita...
Silahkan anda Simak dan Hayati,, semoga saja kejadian ini tak pernah terulang kembali.. 




Tiba-tiba Penumpang kereta rel listrik (krl) jurusan Jakarta – Bogor geger,minggu (5/6). Sebab,seorang pemulung bernama Supriono (38 thn) tengah menggendong mayat anak, khaerunisa (3 thn).
Supriono akan memakamkan si kecil di kampung Kramat, Bogor dengan menggunakan jasa krl. Tapi di stasiun tebet, supriono dipaksa turun dari kereta, lantas dibawa ke kantor polisi karena dicurigai si anak adalah korban kejahatan. Tapi di kantor polisi, Supriono mengatakan si anak tewas karena penyakit muntaber. Polisi belum langsung percaya dan memaksa supriono membawa jenazah itu ke RSCM untuk diautopsi.

Di RSCM, Supriono menjelaskan bahwa khaerunisa sudah empat hari terserang muntaber. Dia sudah membawa khaerunisa untuk berobat ke puskesmas kecamatan setiabudi. Saya hanya sekali bawa khaerunisa ke puskesmas, saya tidak punya uang untuk membawanya lagi ke puskesmas, meski biaya hanya rp 4.000,- saya hanya pemulung kardus, gelas dan botol plastik yang penghasilannya hanya rp 10.000,- per hari. Ujar bapak 2 anak yang mengaku tinggal di kolong perlintasan rel ka di cikini itu.
Supriono hanya bisa berharap Khaerunisa sembuh dengan sendirinya. Selama sakit khaerunisa terkadang masih mengikuti ayah dan kakaknya, muriski saleh (6 thn), untuk memulung kardus di manggarai hingga salemba, meski hanya terbaring digerobak ayahnya.

Karena tidak kuasa melawan penyakitnya, akhirnya khaerunisa menghembuskan nafas terakhirnya pada minggu (5/6) pukul 07.00.
Khaerunisa meninggal di depan sang ayah, dengan terbaring di dalam gerobak yang kotor itu, di sela-sela kardus yang bau. Tak ada siapa-siapa, kecuali sang bapak dan kakaknya. Supriono dan muriski termangu. Uang di saku tinggal rp 6.000,- tak mungkin cukup beli kain kafan untuk membungkus mayat si kecil dengan layak, apalagi sampai harus menyewa ambulans. Khaerunisa masih terbaring di gerobak. Supriono mengajak musriki berjalan menyorong gerobak berisikan mayat itu dari manggarai hingga ke stasiun tebet, supriono berniat menguburkan anaknya di kampong pemulung di kramat, bogor. Ia berharap di sana mendapatkan bantuan dari sesama pemulung.

Pukul 10.00 yang mulai terik, gerobak mayat itu tiba di stasiun tebet.
Yang tersisa hanyalah sarung kucel yang kemudian dipakai membungkus jenazah si kecil. Kepala mayat anak yang dicinta itu dibiarkan terbuka, biar orang tak tahu kalau khaerunisa sudah menghadap sang khalik. Dengan menggandeng si sulung yang berusia 6 thn, Supriono menggendong Khaerunisa menuju stasiun. Ketika krl jurusan bogor datang, tiba-tiba seorang pedagang menghampiri supriono dan menanyakan anaknya. Lalu dijelaskan oleh Supriono bahwa anaknya telah meninggal dan akan dibawa ke Bogor spontan penumpang krl yang mendengar penjelasan supriono langsung berkerumun dan supriono langsung dibawa ke kantor polisi Tebet. Polisi menyuruh agar supriono membawa anaknya ke RSCM dengan menumpang ambulans hitam.

Supriono ngotot meminta agar mayat anaknya bisa segera dimakamkan.
Tapi dia hanya bisa tersandar di tembok ketika menantikan surat permintaan pulang dari RSCM. Sambil memandangi mayat khaerunisa yang terbujur kaku. Hingga saat itu Muriski sang kakak yang belum mengerti kalau adiknya telah meninggal masih terus bermain sambil sesekali memegang tubuh adiknya. Pukul 16.00, akhirnya petugas RSCM mengeluarkan surat tersebut, lagi-lagi karena tidak punya uang untuk menyewa ambulans, Supriono harus berjalan kaki menggendong mayat Khaerunisa dengan kain sarung sambil menggandeng tangan Muriski. Beberapa warga yang iba memberikan uang sekadarnya untuk ongkos perjalanan ke Bogor.

Para pedagang di RSCM juga memberikan air minum kemasan untuk bekal Supriono dan Muriski di perjalanan.

Psikolog Sartono Mukadis menangis mendengar cerita ini dan mengaku benar-benar terpukul dengan peristiwa yang sangat tragis tersebut karena masyarakat dan aparat pemerintah saat ini sudah tidak lagi perduli terhadap sesama. Peristiwa itu adalah dosa masyarakat yang seharusnya kita bertanggung jawab untuk mengurus jenazah khaerunisa. Jangan bilang keluarga supriono tidak memiliki KTP atau KK atau bahkan tempat tinggal dan alamat tetap. Ini merupakan tamparan untuk bangsa Indonesia, ujarnya.







Sumber :www.kaskus.us/showthread.php?t=8999110

Fatamorgana: Suamiku Kini Telah Tiada Tetapi Penyesalanku Akan Terus Ada (True Story)

on Kamis, 23 Juni 2011

Dear Naturalist, silahkan simak kisah nyata ini dan ambil hikmah di dalamnya 

Namaku Rina Amalina. Ini adalah kisah nyata di kehidupanku. Berat rasanya harus menanggung beban penyesalan dan kepedihan ini lalu menuangkannya kedalam sebuah tulisan. Namun aku berharap penyesalan ini tidak akan dirasakan oleh istri-istri lainnya yg membaca tulisan pendekku ini. 

Seorang suami yg kucintai, yg begitu besar pengorbanannya sebagai seorang suami dan ayah bagi keluargaku, yg begitu tulus kasih sayangnya untukku dan anakku, namun belum menerima perlakuan yang layak dariku, kini telah pergi untuk selamanya.

Suamiku adalah seorang pekerja keras. Dia membangun segala yang ada di keluarga ini dari nol besar hingga menjadi seperti saat ini. Sesuatu yang kami rasa sudah lebih dari cukup.

Aku merasa sangat berdosa ketika teringat suamiku pulang bekerja dan aku menyambutnya dengan amarah, tak kuberikan secangkir teh hangat melainkan kuberikan segenggam luapan amarah. Selalu kukatakan pada dia bahwa dia tak peduli padaku, tak mengerti aku, dan selalu saja sibuk dengan pekerjaannya.

Setiap suamiku pulang kerja. Dia selalu mengatakan, “ ibu capai? istirahat dulu saja”. Dengan kasar kukatakan, “ya jelas aku capai, semua pekerjaan rumah aku kerjakan. Urus anak, urus cucian, masak, nganter anak sekolah, belanja, ayah tahunya ya pulang datang bersih.titik.” dengan muka masam dan bersungut.

Sungguh, bagaimana perasaan suamiku saat itu. Tapi dia hanya diam saja. Sembari tersenyum dan pergi ke dapur membuat teh atau kopi hangat sendiri. Padahal kusadari. Beban dia sebagai kepala rumah tangga jauh lebih berat di banding aku. Pekerjaannya jika salah pasti sering di maki-maki pelanggan. Tidak kenal panas ataupun hujan dia jalani pekerjaannya dengan penuh ikhlas.

Tapi kini aku tahu. Semua ucapanku selama ini salah dan hanya menjadi penyesalanku karena dia telah tiada. Temannya mengatakan padaku sepeninggal kepergiannya. Bahwa dia selalu membanggakan aku dan anakku di depan rekan kerjanya.

Dia berkata, “ setiap kali kami ajak dia makan siang, mas anwar jarang sekali ikut kalau tidak penting sekali, alasannya slalu tak jelas. Dan lain waktu aku sempat menanyakan kenapa dia jarang sekali mau makan siang, dia menjawab, “ aku belum melihat istriku makan siang dan aku belum melihat anakku minum susu dengan riang, lalu bagaimana aku bisa makan siang.”

Saat itu aku tertegun, "aku salut pada suamimu. Dia sosok yang sangat sayang pada keluarganya. Suamimu bukan saja orang yang sangat sayang pada keluarga, tapi suamimu adalah sosok pemimpin yang hebat. Selalu mampu memberikan solusi-solusi jitu pada perusahaan.”

Aku menahan air mataku karena aku tak ingin menangis di depan rekan kerja suamiku. Aku sedih karena saat ini aku sudah kehilangan sosok yang hebat. Teringat akan amarahku pada suamiku, aku selalu mengatakan dia slalu menyibukkan diri pada pekerjaan, dia tak pernah peduli pada anak kita.

Namun itu semua salah. Sepeninggal suamiku. Aku menemukan dokumen2 pekerjaannya. Dan aku tak kuasa menahan tangis membaca di tiap lembar di sebuah buku catatan kecil di tumpukan dokumen itu, yang salah satunya berbunyi:

“ Perusahaan kecil CV. Anwar Sejahtera di bangun atas keringat yang tak pernah kurasa. Kuharap nanti bukan lagi CV.Anwar Sejahtera, melainkan akan di teruskan oleh putra kesayanganku dengan nama PT. Syahril Anwar Sejahtera.

Maaf nak, ayah tidak bisa memberikanmu sebuah kasih sayang berupa belaian. Tapi cukuplah ibumu yang memberikan kelembutan kasih sayang secara langsung. Ayah ingin lakukan seperti ibumu. Tapi kamu adalah laki-laki. Kamu harus kuat. Dan kamu harus menjadi laki-laki hebat. Dan ayah rasa, kasih sayang yang lebih tepat ayah berikan adalah kasih sayang berupa ilmu dan pelajaran.

Maaf ayah agak keras padamu nak. Tapi kamulah laki-laki. Sosok yang akan menjadi pemimpin, sosok yang harus kuat menahan terpaan angin dari manapun. Dan ayah yakin kamu dapat menjadi seperti itu.”

Membaca itu, benar2 baru kusadari betapa suamiku menyayangi putraku, betapa dia mempersiapkan masa depan putraku sedari dini. Betapa dia memikirkan jalan untuk kebaikan anak kita.

Suamiku meninggalkanku setelah terkena serangan jantung di ruang kerjanya, tepat setelah aku menelponnya dan memaki-makinya. Sungguh aku berdosa. Selama hidupnya tak pernah aku tahu bahwa dia mengidap penyakit jantung. Hanya setelah sepeninggalnya aku tahu dari pegawainya yang sering mengantarnya ke klinik spesialis jantung yang murah di kota kami.

Pegawai tersebut bercerita kepadaku bahwa sempat dia menanyakan pada suamiku.
“Pak kenapa cari klinik yang termurah? saya rasa bapak bisa berobat di tempat yg lebih mahal dan lebih memiliki pelayanan yang baik dan standar pengobatan yang lebih baik pula”

Dan suamiku menjawab, “tak usahlah terlalu mahal. Aku hanya ingin tahu seberapa lama aku dapat bertahan. Tidak lebih. Dan aku tak mau memotong tabungan untuk hari depan anakku dan keluargaku. Aku tak ingin gara-gara jantungku yang rusak ini mereka menjadi kesusahan. Dan jangan sampai istriku tahu aku mengidap penyakit jantung. Aku takut istriku menyayangiku karena iba. Aku ingin rasa sayang yang tulus dan ikhlas.”

Ya Robb..Maafkan hamba-Mu ini Ya Allah, hamba tak mampu menjadi istri yang baik. Hamba tak sempat memberikan rasa sayang yang pantas untuk suami hamba yang dengan tulus menyayangi keluarga ini.

Aku malu pada diriku. Hanya tangis dan penyesalan yang kini ada. Seandainya aku boleh kembali ke masa lalu, ingin rasanya kuperlakukan dia sebagaimana mestinya. Tapi kenyataan berbicara lain. Kini ini ia telah memejamkan matanya untuk selama lamanya. Hanyalah penyesalan dan kesedihan yang kini tersisa di dada.

aku menulis ini sebagai renungan kita bersama. Agar kesalahan yang ku lakukan tidak di lakukan oleh wanita-wanita yang lain. Karena penyesalan yang datang di akhir tak berguna apa-apa. 

Banggalah pada suamimu yang senantiasa meneteskan keringatnya hingga lupa membasuhnya dan mengering tanpa dia sadari.

Banggalah pada suamimu, karena ucapan itu adalah pemberian yang paling mudah dan paling indah jika suamimu mendengarnya.

Sambut kepulangannya di rumah dengan senyum dan sapaan hangat. Kecup keningnya agar dia merasakan ketenangan setelah menahan beban berat di luar sana.

Sambutlah dengan penuh rasa tulus ikhlas untuk menyayangi suamimu. Selagi dia kembali dalam keadaan dapat membuka mata lebar-lebar, dan bukan kembali sembari memejamkan mata tuk selamanya.

Teruntuk suamiku.
Maafkan aku sayangku.
Terlambat sudah kata ini ku ucapkan.
Aku janji pada diriku sendiri teruntukmu.
Putramu ini akan kubesarkan seperti caramu.
Putra kita ini akan menjadi sosok yang sepertimu.
Aku sangat bangga padamu, aku sayang padamu.


Istrimu,

Rina

Kisah Dendam Positif: Catatan Dirut Aramco



Di sebuah perusahaan pertambangan minyak di Arab Saudi, di akhir tahun 40-an. Seorang pegawai rendahan, remaja lokal asli Saudi, kehausan dan bergegas mencari air untuk menyiram tenggorokannya yang kering. Ia begitu gembira ketika melihat air dingin yang tampak didepannya dan bersegera mengisi air dingin ke dalam gelas.
Belum sempat ia minum, tangannya terhenti oleh sebuah hardikan: “Hei, kamu tidak boleh minum air ini. Kamu cuma pekerja rendahan. Air ini hanya khusus untuk insinyur” Suara itu berasal dari mulut seorang insinyur Amerika yang bekerja di perusahaan tersebut. Remaja itu akhirnya hanya terdiam menahan haus.
Ia tahu ia hanya anak miskin lulusan sekolah dasar. Kalaupun ada pendidikan yang dibanggakan, ia lulusan lembaga Tahfidz Quran, tapi keahlian itu tidak ada harganya di perusahaan minyak yang saat itu masih dikendalikan oleh manajemen Amerika.
Hardikan itu selalu terngiang di kepalanya. Ia lalu bertanya-tanya: Kenapa ini terjadi padaku? Kenapa segelas air saja dilarang untuk ku? Apakah karena aku pekerja rendahan, sedangkan mereka insinyur ?
Apakah kalau aku jadi insinyur aku bisa minum? Apakah aku bisa jadi insinyur seperti mereka? Pertanyaan ini selalu tengiang-ngiang dalam dirinya. Kejadian ini akhirnya menjadi momentum baginya untuk membangkitkan “DENDAM POSITIF”. Akhirnya muncul komitmen dalam dirinya. Remaja miskin itu lalu bekerja keras siang hari dan melanjutkan sekolah malam hari. Hampir setiap hari ia kurang tidur untuk mengejar ketertinggalannya. Tidak jarang olok-olok dari teman pun diterimanya. Buah kerja kerasnya menggapai hasil. Ia akhirnya bisa lulus SMA.
Kerja kerasnya membuat perusahaan memberi kesempatan padanya untuk mendalami ilmu. Ia dikirim ke Amerika di Lahegh University mengambil kuliah S1 bidang teknik serta master bidang geologi di Stanford University. Pemuda ini lulus dengan hasil memuaskan. Selanjutnya ia pulang kenegerinya dan bekerja sebagai insinyur.
Kini ia sudah menaklukkan dendamnya, kembali sebagai insinyur dan bisa minum air yang dulu dilarang baginya. Apakah sampai di situ saja?. Tidak, karirnya melesat terus. Ia sudah terlatih bekerja keras dan mengejar ketinggalan, dalam pekerjaan pun karirnya menyusul yang lain.
Karirnya melonjak dari kepala bagian, kepala cabang, manajer umum sampai akhirnya ia menjabat sebagai wakil direktur, sebuah jabatan tertinggi yang bisa dicapai oleh orang lokal saat itu.
Ada kejadian menarik ketika ia menjabat wakil direktur. Insinyur Amerika yang dulu pernah mengusirnya, kini justru jadi bawahannya. Suatu hari insinyur bule ini datang menghadap karena ingin minta izin libur dan berkata; “Aku ingin mengajukan izin liburan. Aku berharap Anda tidak mengaitkan kejadian air di masa lalu dengan pekerjaan resmi ini. Aku berharap Anda tidak membalas dendam, atas kekasaran dan keburukan perilakuku di masa lalu”
Apa jawab sang wakil direktur mantan pekerja rendahan ini: “Aku ingin berterimakasih padamu dari lubuk hatiku yang paling dalam karena kau melarang aku minum saat itu. Ya dulu aku benci padamu. Tapi, setelah izin Allah,  kamu lah sebab kesuksesanku hingga aku meraih sukses ini. “
Kini dendam positif lainnya sudah tertaklukkan. Lalu apakah ceritanya sampai di sini? Tidak. Akhirnya mantan pegawai rendahan ini menempati jabatan tertinggi di perusahaan tersebut. Ia menjadi Presiden Direktur pertama yang berasal dari bangsa Arab.
Tahukan Anda apa perusahaan yang dipimpinnya? Perusahaan itu adalah Aramco (Arabian American Oil Company) perusahaan minyak terbesar di dunia. Ditangannya perusahaan ini semakin membesar dan kepemilikan Arab Saudi semakin dominan. Kini perusahaaan ini menghasilakn 3.4 juta barrels (540,000,000 m3) dan mengendalikan lebih dari 100 ladang migas di Saudi Arabia dengan total cadangan 264 miliar barrels (4.20×1010 m3) minyak dan 253 triliun cadangan gas.
Atas prestasinya Ia ditunjuk Raja Arab Saudi untuk menjabat sebagai Menteri Perminyakan dan Mineral yang mempunyai pengaruh sangat besar terhadap dunia. Tahukah kisah siapa ini? Ini adalah kisah Ali bin Ibrahim Al-Naimi yang sejak tahun 1995 sampai saat ini (2011) menjabat Menteri Perminyakan dan Mineral Arab Saudi.
Terbayangkah, hanya dengan mengembangkan hinaan menjadi dendam positif, isu air segelas di masa lalu membentuknya menjadi salah seorang penguasa minyak yang paling berpengaruh di seluruh dunia.
Itulah kekuatan “DENDAM POSITIF”. Kita tidak bisa mengatur bagaimana orang lain berperilaku terhadap kita. Kita tidak pernah tahu bagaimana keadaan akan menimpa kita. Tapi kita sepenuhnya punya kendali bagaimana menyikapinya. Apakah ingin hancur karenanya? Atau bangkit dengan semangat Dendam Positif ?
(dari buku Dendam Positif karya Isa Alamsyah dan Asma Nadia)