Pertanyaan Terpenting Untuk Calon Dokter

on Selasa, 04 September 2012

"Sebuah kisah menarik untuk instropeksi diri kita, tidak hanya bagi seorang calon dokter, tapi juga calon pemimpin, calon pengusaha dan profesi yang lainnya..."


Namaku Riri, aku saat ini sedang kuliah semester akhir di sebuah universitas negeri. Aku kuliah disebuah jurusan yang cukup favorit. Sebuah jurusan - yang aku yakini - dapat membuat hidupku lebih baik di masa mendatang.

Bukan kehidupan yang hanya untukku, tetapi juga buat keluargaku yang telah susah payah mengumpulkan uang - agar aku dapat meneruskan dan meluluskan kuliahku. Kakakku juga rela untuk tidak menikah tahun ini, karena ia harus menyisihkan sebagian gajinya untuk membiayai tugas akhir dan biaya-biaya lainnya yang cukup tinggi.

Hari ini adalah hari ujian semesteranku. Mata kuliah ini diampu oleh dosen yang cukup unik, dia ingin memberikan pertanyaan-pertanyaan ujian secara lisan. "Agar aku bisa dekat dengan mahasiswa." katanya beberapa waktu lalu.

Satu per satu pertanyaan pun dia lontarkan, kami para mahasiswa berusaha menjawab pertanyaan itu semampu mungkin dalam kertas ujian kami. Ketakutanku terjawab hari ini, 9 pertanyaan yang dilontarkannya lumayan mudah untuk dijawab. Jawaban demi jawaban pun dengan lancar aku tulis di lembar jawabku.

Tinggal pertanyaan ke-10.

"Ini pertanyaan terakhir." kata dosen itu.

"Coba tuliskan nama ibu tua yang setia membersihkan ruangan ini, bahkan seluruh ruangan di gedung Jurusan ini !" katanya.

Seluruh ruangan pun tersenyum. Mungkin mereka menyangka ini hanya gurauan, jelas pertanyaan ini tidak ada hubungannya dengan mata kuliah yang sedang diujikan kali ini.

"Ini serius !" lanjut Pak Dosen yang sudah agak tua itu dengan tegas. "Kalau tidak tahu mending dikosongkan aja, jangan suka mengarang nama orang !"

Aku tahu ibu tua itu, dia mungkin juga satu-satunya cleaning service di gedung jurusan kedokteran ini. Aku tahu dia, orangnya agak pendek, rambut putih yang selalu digelung, dan ia selalu ramah serta amat sopan dengan mahasiswa-mahasiswa di sini. Ia selalu menundukkan kepalanya saat melewati kerumunan mahasiswa yang sedang nongkrong.

Tapi satu hal yang membuatku konyol.. aku tidak tahu namanya ! dan dengan terpaksa aku memberi jawaban 'kosong' pada pertanyaan ke-10 ini.

Ujian pun berakhir, satu per satu lembar jawaban pun dikumpulkan ke tangan dosen itu. Sambil menyodorkan kertas jawaban, aku memberanikan bertanya kepadanya kenapa ia memberi 'pertanyaan aneh' itu, serta seberapa pentingkah pertanyaan itu dalam ujian kali ini.

"Justru ini adalah pertanyaan terpenting dalam ujian kali ini" katanya. Beberapa mahasiswa pun ikut memperhatikan ketika dosen itu berbicara.

"Pertanyaan ini memiliki bobot tertinggi dari pada 9 pertanyaan yang lainnya, jika anda tidak mampu menjawabnya, sudah pasti nilai anda hanya C atau D !"

Semua berdecak, aku bertanya kepadanya lagi, "Kenapa Pak ?"

Kata dosen itu sambil tersenyum, "Hanya yang peduli pada orang-orang sekitarnya saja yang pantas jadi "DOKTER" Ia lalu pergi membawa tumpukan kertas-kertas jawaban ujian itu.



Sumber


Ibu yang berjasa


Apa yang paling dinanti seorang wanita yang baru saja menikah ? Sudah pasti jawabannya adalah : k-e-h-a-m-i-l-a-n. Seberapa jauh pun jalan yang harus ditempuh, Seberat apa pun langkah yang mesti diayun, Seberapa lama pun waktu yang harus dijalani, Tak kenal menyerah demi mendapatkan satu kepastian dari seorang bidan: p-o-s-i-t-i-f.
Meski berat, tak ada yang membuatnya mampu bertahan hidup kecuali benih dalam kandungannya. Menangis, tertawa, sedih dan bahagia tak berbeda baginya, karena ia lebih mementingkan apa yang dirasa si kecil di perutnya. Seringkali ia bertanya : menangiskah ia? Tertawakah ia? Sedihkah atau bahagiakah ia di dalam sana? Bahkan ketika waktunya tiba, tak ada yang mampu menandingi cinta yang pernah diberikannya, ketika itu mati pun akan dipertaruhkannya asalkan generasi penerusnya itu bisa terlahir ke dunia. Rasa sakit pun sirna, ketika mendengar tangisan pertama si buah hati, tak peduli darah dan keringat yang terus bercucuran. Detik itu, sebuah episode cinta baru saja berputar.

Tak ada yang lebih membanggakan untuk diperbincangkan selain anak. Tak satu pun tema yang paling menarik untuk didiskusikan bersama rekan sekerja, teman sejawat, kerabat maupun keluarga, kecuali anak. Si kecil baru saja berucap "Ma?" segera ia mengangkat telepon untuk mengabarkan ke semua yang ada di daftar telepon. Saat baru pertama berdiri, ia pun berteriak histeris, antara haru, bangga dan sedikit takut si kecil terjatuh dan luka. Hari pertama sekolah adalah saat pertama kali matanya menyaksikan langkah awal kesuksesannya. Meskipun disaat yang sama, pikirannya terus menerawang dan bibirnya tak lepas berdoa, berharap sang suami tak terhenti rezekinya. Agar langkah kaki kecil itu pun tak terhenti di tengah jalan.

"Demi anak", "Untuk anak", menjadi alasan utama ketika ia berada di pasar berbelanja keperluan si kecil. Saat ia berada di pesta seorang kerabat atau keluarga dan membungkus beberapa potong makanan dalam tissue. Ia selalu mengingat anaknya dalam setiap suapan nasinya, setiap gigitan kuenya, setiap kali hendak berbelanja baju untuknya. Tak jarang, ia urung membeli baju untuk dirinya sendiri dan berganti mengambil baju untuk anak. Padahal, baru kemarin sore ia membeli baju si kecil. Meski pun, terkadang ia harus berhutang. Lagi-lagi atas satu alasan, demi anak.

Di saat pusing pikirannya mengatur keuangan yang serba terbatas, periksalah catatannya. Di kertas kecil itu tertulis: 1. Beli susu anak; 2. Uang sekolah anak. Nomor urut selanjutnya baru kebutuhan yang lain. Tapi jelas di situ, kebutuhan anak senantiasa menjadi prioritasnya.
Bahkan, tak ada beras di rumah pun tak mengapa, asalkan susu si kecil tetap terbeli. Takkan dibiarkan si kecil menangis, apa pun akan dilakukan agar senyum dan tawa riangnya tetap terdengar.

Ia menjadi guru yang tak pernah digaji, menjadi pembantu yang tak pernah dibayar, menjadi pelayan yang sering terlupa dihargai, dan menjadi babby sitter yang paling setia. Sesekali ia menjelma menjadi puteri salju yang bernyanyi merdu menunggu suntingan sang pangeran. Keesokannya ia rela menjadi kuda yang meringkik, berlari mengejar dan menghalau musuh agar tak mengganggu. Atau ketika ia dengan lihainya menjadi seekor kelinci yang melompat-lompat mengelilingi kebun, mencari wortel untuk makan sehari-hari. Hanya tawa dan jerit lucu yang ingin didengarnya dari kisah-kisah yang tak pernah absen didongengkannya. Kantuk dan lelah tak lagi dihiraukan, walau harus menyamarkan suara menguapnya dengan auman harimau. Atau berpura-pura si nenek sihir terjatuh dan mati sekadar untuk bisa memejamkan mata barang sedetik. Namun, si kecil belum juga terpejam dan memintanya menceritakan dongeng ke sekian. Dalam kantuknya, ia pun terus mendongeng.

Tak ada yang dilakukannya di setiap pagi sebelum menyiapkan sarapan anak-anak yang akan berangkat ke kampus. Tak satu pun yang paling ditunggu kepulangannya selain suami dan anak-anak tercinta. Serta merta kalimat, "sudah makan belum?" tak lupa terlontar saat baru saja memasuki rumah. Tak peduli meski si kecil yang dulu kerap ia timang dalam dekapannya itu, sekarang sudah menjadi orang dewasa yang bisa saja membeli makan siangnya sendiri di kampus.

Hari ketika si anak yang telah dewasa itu mampu mengambil keputusan terpenting dalam hidupnya, untuk menentukan jalan hidup bersama pasangannya, siapa yang paling menangis? Siapa yang lebih dulu menitikkan air mata? Lihatlah sudut matanya, telah menjadi samudera air mata dalam sekejap. Langkah beratnya ikhlas mengantar buah hatinya ke kursi pelaminan. Ia menangis melihat anaknya tersenyum bahagia dibalut gaun pengantin. Di saat itu, ia pun sadar, buah hati yang bertahun-tahun menjadi kubangan curahan cintanya itu tak lagi hanya miliknya. Ada satu hati lagi yang tertambat, yang dalam harapnya ia berlirih, "Masihkah kau anakku?"

Saat senja tiba. Ketika keriput di tangan dan wajah mulai berbicara tentang usianya. Ia pun sadar, bahwa sebentar lagi masanya kan berakhir. Hanya satu pinta yang sering terucap dari bibirnya, "Bila ibu meninggal, ibu ingin anak-anak ibu yang memandikan. Ibu ingin dimandikan sambil dipangku kalian". Tak hanya itu, imam shalat jenazah pun ia meminta dari salah satu anaknya. "Agar tak percuma ibu mendidik kalian menjadi anak yang shalih & shalihat sejak kecil," ujarnya.

Duh ibu, semoga saya bisa menjawab pintamu itu kelak. Bagaimana mungkin saya tak ingin memenuhi pinta itu? Sejak saya kecil ibu telah mengajarkan arti cinta sebenarnya. Ibulah madrasah cinta saya, Ibulah sekolah yang hanya punya satu mata pelajaran, yaitu "cinta". Sekolah yang hanya punya satu guru yaitu "pecinta". Sekolah yang semua murid-muridnya diberi satu nama: "anakku tercinta".Terima kasih buat ibu dan ayahku yang telah membesarkan aku dari kecil sampai sekarang udh beranjak dewasa.

Sumber

Wortel, Telur dan Kopi

on Rabu, 08 Agustus 2012

Seorang anak mengeluh pada ayahnya mengenai kehidupannya dan menanyakan mengapa hidup ini terasa begitu berat baginya. Ia tidak tahu bagaimana menghadapinya dan hampir menyerah. Ia sudah lelah untuk berjuang. Sepertinya setiap kali satu masalah selesai, timbul masalah baru.

Ayahnya, seorang koki, membawanya ke dapur. Ia mengisi 3 panci dengan air dan menaruhnya di atas api.

Setelah air di panci-panci tersebut mendidih. Ia menaruh wortel di dalam panci pertama, telur di panci kedua dan ia menaruh kopi bubuk di panci terakhir. Ia membiarkannya mendidih tanpa berkata-kata. Si anak membungkam dan menunggu dengan tidak sabar, memikirkan apa yang sedang dikerjakan sang ayah. Setelah 20 menit, sang ayah mematikan api.

Ia menyisihkan wortel dan menaruhnya di mangkuk, mengangkat telur dan meletakkannya di mangkuk yang lain, dan menuangkan kopi di mangkuk lainnya.

Lalu ia bertanya kepada anaknya, “Apa yang kau lihat, nak?”"Wortel, telur, dan kopi” jawab si anak. Ayahnya mengajaknya mendekat dan memintanya merasakan wortel itu. Ia melakukannya dan merasakan bahwa wortel itu terasa lunak. Ayahnya lalu memintanya mengambil telur dan memecahkannya. Setelah membuang kulitnya, ia mendapati sebuah telur rebus yang mengeras.

Terakhir, ayahnya memintanya untuk mencicipi kopi. Ia tersenyum ketika mencicipi kopi dengan aromanya yang khas. Setelah itu, si anak bertanya, “Apa arti semua ini, Ayah?”

Ayahnya menerangkan bahwa ketiganya telah menghadapi ‘kesulitan’ yang sama, melalui proses perebusan, tetapi masing-masing menunjukkan reaksi yang berbeda.

Wortel sebelum direbus kuat, keras dan sukar dipatahkan. Tetapi setelah direbus, wortel menjadi lembut dan lunak. Telur sebelumnya mudah pecah. Cangkang tipisnya melindungi isinya yang berupa cairan. Tetapi setelah direbus, isinya menjadi keras. Bubuk kopi mengalami perubahan yang unik. Setelah berada di dalam rebusan air, bubuk kopi merubah air tersebut.

“Kamu termasuk yang mana?,” tanya ayahnya. “Ketika kesulitan mendatangimu, bagaimana kau menghadapinya? Apakah kamu wortel, telur atau kopi?” Bagaimana dengan kamu? Apakah kamu adalah wortel yang kelihatannya keras, tapi dengan adanya penderitaan dan kesulitan, kamu menyerah, menjadi lunak dan kehilangan kekuatanmu.”

“Apakah kamu adalah telur, yang awalnya memiliki hati lembut? Dengan jiwa yang dinamis, namun setelah adanya kematian, patah hati, perceraian atau pemecatan maka hatimu menjadi keras dan kaku. Dari luar kelihatan sama, tetapi apakah kamu menjadi pahit dan keras dengan jiwa dan hati yang kaku?.”

“Ataukah kamu adalah bubuk kopi? Bubuk kopi merubah air panas, sesuatu yang menimbulkan kesakitan, untuk mencapai rasanya yang maksimal pada suhu 100 derajat Celcius. Ketika air mencapai suhu terpanas, kopi terasa semakin nikmat.”

“Jika kamu seperti bubuk kopi, ketika keadaan menjadi semakin buruk, kamu akan menjadi semakin baik dan membuat keadaan di sekitarmu juga membaik.”

“Ada raksasa dalam setiap orang dan tidak ada sesuatupun yang mampu menahan raksasa itu kecuali raksasa itu menahan dirinya sendiri”

Lirih...

on Selasa, 17 Juli 2012

Disaat kawan kita tersungkur jatuh,
Disaat kawan kita menjerit lirih,
Disaat kawan kita terjebak diantara kungkungan bathin dan penyesalan,,,
Masih pantaskah kita terus menebar tawa &
mengobral suka cita..
Diam pun sudah tak cukup lagi,,
Jika tangan ini mampu meraih,
Jika kaki ini mampu melangkah,
Takkan kubiarkan kau sendiri disana..
Takkan kubiarkan kau membisu bermuram durja
Seakan dunia sudah tak lagi berwarna,
Seakan hidup ini telah ternoda..

Tegarlah kawan,
Tak perlu kau sesali apa yang telah terjadi,,
Bangkitlah, dan hadapi apapun yang akan terjadi nanti,
Sembari berserah diri pada Ilahi
Biarkan semua ini menjadi pelajaran bagi kita untuk menjadi lebih dewasa,,
Satu hal yang tak boleh kau lupa..
Hidup ini memang tidak semudah yang kita bayangkan,
Tetapi, hidup ini juga tak sesulit yang kita perkirakan,,
Jangan biarkan penyesalan itu mengekang hidupmu
Wake up guys, keep move on..
Percayalah...
Semua akan baik-baik saja..

tribute to : Defri Kristianto
Tangerang, 17 Juli 2012
13:35

Fh

Kebahagiaan Sejati

on Kamis, 07 Juni 2012



Lama dah punya blog, tapi selama ini cuma bisa copas dari milis atau blog tetangga hehe.. 
Ok deh, lets write n' write...

Hari ini sebenarnya bukan hari yang tepat buat ngeblog tapi daripada bengong sambil nahan pilek dan batuk yang penting bisa mengasah ketrampilan menulis saya. Tapi dari keadaan saya yang saat ini kurang fit, saya jadi ingat suatu mutiara hadist rosul bahwa tiada hamba yang dicoba sakit oleh tuhannya lebih dari 3 hari, kecuali Alloh akan mengampuni dosa-dosanya Amiiin.....
Ok, Cukup deh basa-basinya sekarang back to judul.

Jika ada seseorang yang bertanya kepadaku apakah arti dari sebuah Kebahagiaan?

Hmm, sebelum saya menjawab pertanyaan tersebut saya akan mengajak anda untuk mengingat-ingat pelajaran jaman smp dulu.

Apakah anda masih ingat dengan istilah manusia adalah mahluk sosial?
Yah, manusia disebut sebagai mahluk sosial karena untuk dapat menjalani kehidupan ini manusia membutuhkan orang lain.
Trus kenapa manusia dalam hidup ini membutuhkan orang lain?
Karena pada dasarnya tidak ada manusia yang sempurna, No body perfect, Tiada gading yang tak retak. Berarti setiap manusia pasti mempunyai kekurangan. Dan ketika ada orang lain yang melengkapi kekurangannya itu, maka hatinya akan senang, gembira, bahagia dll.

Trus bagaimana dengan orang lain yang melengkapi kekurangan itu? 
Ok, ketika seseorang dengan ketulusan hatinya memberikan sesuatu untuk melengkapi kekurangan orang lain katakan namanya si A, dan ternyata si A tersebut merasa senang dan gembira dengan pemberian  tersebut maka saya yakin sebagai manusia dia pasti merasa gembira. 
Mau bukti?
jika anda pernah melakukan kegiatan PDKT pada orang yang anda taksir, dan untuk meyakinkan dia, anda memberinya sebuah hadiah, tanpa anda sadari ternyata dia sangat senang sekali dengan hadiah  anda itu, bagaimana perasaan anda? Senang atau sedih? Silahkan anda jawab sendiri.

Ketika ada seseorang yang bisa berbagi dengan orang lain yang membutuhkan. Dan ternyata pemberiannya itu benar-benar bermakna bagi orang lain tersebut, maka hatinya akan merasa plong, lega, gembira, bahagia dll. 

Selain itu anda juga akan mendapatkan kenikmatan atau kebarokahan yang lain yang mungkin tidak pernah anda kira sebelumnya.
Mungkin anda mengenal Bill Gates, pemilik Microsoft. Dia adalah orang yang pernah menjadi orang terkaya sedunia selama bertahun-tahun. Mungkin anda akan menebak karena software berbayarnya banyak digunakan di dunia.Tapi ternyata ada seorang tokoh yang mengatakan bahwa yang menjadikan Bill Gates orang terkaya nomer 1 di Dunia adalah karena dia ini suka bersedekah. Seandainya dia tidak suka bersedekah mungkin dia tidak akan mempunyai kekayaan sebanyak itu, lanjutnya. Bill ini sering memberikan bantuan kepada organisasi2 dan pemerintah. bahkan kabarnya Pemerintah kita juga  pernah dapat bantuan dari Om Bill Gates ini.
Nah lo!

Mungkin itu adalah wujud dari sedekah nyata dari Bill Gates. Ada juga sedekah Bill yang tidak nyata, yaitu tidak menuntut orang-orang yang membajak softwarenya, Pernah suatu ketika Bill ini ditanya bagaimana tanggapannya dengan pembajakan software yang kerap terjadi di Asia. Apa jawabnya? dia justru menganggap hal itu sebagai promosi gratis, sekaligus candu yang akan membuat mereka ingin mencicipi produk microsoft yang asli.
seandainya dia menuntut setiap orang/perusahaan yang membajak softwarenya, berapa duit yang akan dia dapat??? itulah salah satu bentuk sedekah tidak nyata Om Bill yang sering tidak kita sadari.
dan masih banyak lagi kisah2 lain yang mirip dengan ini.



Trus bagaimana caranya agar kita bisa memiliki jiwa ikhlas saat memberi?

Ok, sekarang jawabnya adalah dengan bersyukur. Dengan kita bersyukur maka nikmat yang sebelumnya kita anggap kecil, menjadi begitu besar dan patut kita syukuri. Dengan syukur ini pula maka kita akan mendapat kepuasan batin yang menghentikan sifat tamak kita.

Lalu bagaimana caranya agar kita mampu bersyukur?
Pada dasarnya manusia adalah mahluk yang tamak, rakus dan tidak pernah merasa puas. Disebuah mutiara hadits disebutkan bahwa  ketika manusia diberi harta sebanyak 1 jurang, maka dia akan mencari jurang yang kedua, ketika diberi 2 jurang maka akan mencari jurang yang ketiga, dan seterusnya dia hanya akan berhenti jika tanah telah memenuhi perutnya (mati).
Cara paling efektif untuk bisa bersyukur adalah dengan instropeksi diri dan melihat orang-orang yang berada di bawah kita.

Coba anda lihat apa yang saat ini anda miliki? Rumah, Mobil, Motor, Perhiasan, dapat makan dengan kenyang dll.
Sekarang coba lihatlah orang disekitar kita,
adakah orang yang mencoba mengais2 rezeki dari tumpukan sampah?
adakah orang yang terus mendorong gerobaknya meski waktu sudah memasuki saat sholat maghrib?
Apakah anak anda harus ikut memanggul panci saat orang tuanya sedang menjual panci?
apakah semua yang anda miliki saat ini, mereka juga memilikinya? 
Silahkan anda jawab sendiri..

Dari sinilah akan muncul perasaan bersyukur, Alhamdulillah, meski gaji saya sedikit tapi nasib saya lebih baik dari mereka. Alhamdulillah anak-anak saya dapat bersekolah dengan full tanpa harus susah2 membantu pekerjaan harian saya. Dan Alhamdulillah, Alhamdulillah yang lain pun akan muncul.

Syukur ibarat sebuah alarm kehidupan kita, untuk mendaki puncak kehidupan ini. Dengan syukur ini rasa tamak kita sebagai manusia, rasa rakus kita, rasa tidak puas kita, semuanya dapat kita kendalikan. Sehingga kita tidak mencari kepuasan dunia ini dengan membabi buta.

Jika saya gambarkan,jika kehidupan manusia kita anggap layang-layang, pasti setiap anak yang bermain layang-layang ingin layangannya itu terbang tinggi. Lalu apakah setelah layang-layang itu terbang, anak itu akan mengolor semua senarnya tanpa menahan sedikitpun? Jika dia sudah ahli maka dia akan menahan layangan tadi dan mengolornya sedikit2 agar layangannya bisa terbang tinggi dengan baik. Seandainya layang-layang tadi diolor terus maka bisa jadi layangan itu malah akan jatuh atau nyangkut.

Demikian pula dengan hidup ini, setiap orang ingin menuju puncak kehidupan ini. Tapi agar rencana kita itu dapat berhasil harus kita tahan2 dulu sebentar untuk bersyukur dan berbagi, agar apa yang telah kita rencanakan itu benar2 bisa berjalan dengan baik.
jadi syukur adalah keadaan dimana kita menghentikan sementara laju ego kita dengan melihat orang-orang yang mempunyai nasib kurang beruntung dibanding kita, dengan tujuan kita sadar bahwa semua kenikmatan ini adalah semata-mata pemberian yang maha kuasa.

Dengan hati yang bisa bersyukur ini maka akan timbul keinginan untuk berbagi dengan orang yang kekurangan.

Dari semua penjelasan diatas dapat saya simpulkan bahwa;

"Kebahagiaan sejati adalah keadaan dimana kita dapat saling berbagi dan mensyukuri apa yang telah dikaruniakan Alloh pada kita"

Ok, ini adalah hasil dari pemikiran saya pribadi. jika ada kekurangan dah kelebihan silahkan anda komentari.

Terima Kasih Atas Kunjungan Anda di Blog Saya,,



Tangerang Selatan, 7 Juni 2012

FH

Ayam Negeri & Ayam Kampung


Pada suatu hari, seorang ayah dan seorang anak laki-lakinya yang sudah menjelang dewasa tampak sedang bersama-sama memberi makanan pada ayam-ayam peliharaan mereka. Keluarga ini memang memelihara banyak ayam dari berbagai jenis, yang terbagi menjadi dua golongan besar, yaitu ayam kampung dan ayam negeri.

Di sela-sela kesibukan itu, tiba-tiba sang ayah bertanya pada anaknya : "Nak, kalau kau harus memilih, yang mana kau lebih suka, jadi ayam negeri atau jadi ayam kampung?" Sang anak tertegun mendengar pertanyaan tersebut. Ia tidak mampu menjawab.

"Apa maksud ayah?" katanya sejurus kemudian.

"Ini hanya sebuah permisalan. Bila kelak engkau menjadi lebih dewasa nanti, ada dua cara hidup yang bisa engkau pilih, yaitu cara hidup seperti ayam negeri, atau sebagai ayam kampung", jelas ayahnya.

"Ah, aku tahu ! Tentu aku memilih hidup seperti ayam kampung. Ia selalu bebas pergi ke mana saja ia mau..", jawab sang anak dengan antusias.

Si ayah yang bijaksana ini tersenyum sambil membenarkan. "Selain kebebasan, masih banyak hal-hal lain yang bisa kita ambil dari kehidupan ayam kampung, dibanding dengan kehidupan ayam negeri", lanjut ayahnya. Lalu ia mulai berbicara panjang lebar untuk menjelaskan falsafah hidup ayam kampung kepada anak kesayangannya tersebut.

Ayam kampung berbeda terhadap ayam negeri dalam banyak hal. Perbedaan pertama yang telah disebut di atas adalah hal kebebasan. Ayam kampung selalu hidup bebas di alam lepas. Pergi ke sana ke mari mencari makan, bermain, dan bercengkerama. Sementara itu, ayam negeri selalu hidup di kandang yang bagus.

Pada malam hari, ayam kampung tidur seadanya, di mana saja. Tidak perlu di kandang, bahkan acapkali hanya di atas jerami atau pada seutas ranting. Sedangkan ayam negeri siang malam ada di kandang yang nyaman, termasuk waktu tidur. Kandangnya itu, benar-benar dibuat nyaman, bersih karena setiap hari dibersihkan. Kesehatan lingkungannya di jaga, bahkan temperatur ruangan harus selalu diatur dengan nyala lampu agar tetap hangat.

Ayam kampung mencari makan sendiri, berjuang menyibak semak-semak, mengorek sampah, merambah selokan, berpanas dan berhujan menyantap apa saja yang bisa disantapnya. Tidak peduli kotoran dan tidak hirau pelimbahan, demi menyambung hidup yang keras dari hari ke hari.

Ayam negeri di lain pihak, disediakan makanan oleh majikannya dengan makanan khusus. Penuh gizi dan bebas hama . Jadwal teratur, dan tidak boleh menyentuh makanan sembarangan. Sekali-sekali pada waktu- waktu tertentu, ayam negeri juga diberi suntikan agar lebih sehat dan produktif.


Melihat kenyataan itu, tentu terpikir oleh kita bahwa sudah sepantasnya kalau ayam negeri memiliki kelebihan dalam segala hal dibanding ayam kampung. Tapi apa nyatanya? Ayam negeri sangat sensitif. Ada keadaan yang sedikit saja menyimpang dari seharusnya, sakitlah ia. Satu sakit, yang lain pun sakit, dan akhirnya semua mati.

Sebaliknya,. ayam kampung tidak pernah sakit, tubuhnya sehat dan kuat, berkat gemblengan alam. Itu yang membuatnya tidak pernah sakit. Ia pun berjuang setiap hari di alam terbuka, melawan kekerasan alam untuk mencari nafkahnya. Ayam kampung juga memiliki rasa pengorbanan, tidak ragu untuk menyibak semak, mengorek sampah dan

merambah selokan, berpanas dan berhujan sambil membimbing anak- anaknya mencari makan, agar mereka tegar seperti induknya.

Sang ayah yang bijaksana tadi berkata lagi : "Lihat, meski bergelimang berbagai kenyamanan, ayam negeri itu sesungguhnya sudah kehilangan identitas sebagai makhluk yang bebas. Statusnya sudah diubah oleh mahluk lain yang bernama manusia, tidak lagi sebagai mahluk hidup, melainkan sebagai mesin. Mesin yang menghasilkan telur dan daging dalam jumlah besar bagi keperluan manusia.."

Moral apa yang bisa kita serap dari fenomena ayam kampung dan ayam negeri ini?

Manusia bisa berkaca dari cermin kehidupan ayam negeri dan ayam kampung. Dalam bekerja mencari nafkah serta meniti karir, kebanyakan generasi muda menghendaki kehidupan nyaman tidak ubahnya bagai kehidupan ayam negeri. Mendambakan hidup nikmat di mana segala kebutuhannya dipenuhi, jauh dari beratnya perjuangan hidup, jauh dari gemblengan dan tantangan alam, bahkan kalau perlu tidak usah tahu dengan yang namanya cucuran keringat serta beratnya banting tulang.

Sejak selesai sekolah, rata-rata pemuda sudah terpola untuk bisa diterima bekerja di sebuah perusahaan besar, menerima gaji besar, mendapat sejumlah jaminan dan fasilitas-fasilitas tertentu, mampu membeli rumah dan mobil sendiri, serta berkantor di salah satu gedung megah dan mewah di kawasan bisnis bergengsi. Sekolah dianggap sebagai sarana yang memberikannya standar pengakuan sebagai tiket untuk mendapatkan semua itu.

Di sana terselip sebuah pengharapan bahwa, semakin tinggi pendidikan yang ditempuh, semakin tinggi pula jabatan yang akan ia peroleh dari perusahaan, dan mereka mengira, semakin santai pula pekerjaan yang akan diberikan kepadanya. Hidup tenang dengan serba berkecukupan bahkan berkelimpahan.

Tak perlu disangsikan lagi bahwa pedoman hidup yang dianut generasi muda ini, sama dan sebangun dengan liku-liku kehidupan ayam negeri. Mereka menginginkan kenyamanan dan berbagai fasilitas yang diberikan oleh majikan, sama seperti ayam negeri menerima kenyamanan dan berbagai fasilitas dari majikannya.

Mereka menginginkan kesehatan dan jadwal hidup yang serba teratur, sama seperti ayam negeri menerima kesemua itu dari majikannya. Mereka memerlukan perhatian penuh tentang kesejahteraan diri dan keluarga, memerlukan tuntunan dan pimpinan untuk memperlancar tugas dan kewajibannya, sama seperti seperti yang diberikan majikan kepada ayam-ayam negeri itu.

Namun mereka tidak menyadari bahwa pada saat yang sama, mereka telah kehilangan kebebasan dirinya, sebagai hak azasi manusia yang paling hakiki. Mereka tidak bisa lagi pergi dan terbang ke sana ke mari seperti seekor elang di langit lepas. Sama seperti yang dialami oleh ayam negeri. Lebih-lebih lagi, mereka telah kehilangan identitas diri sebagai mahluk hidup, karena status dirinya, disadari atau tidak, telah dirubah menjadi mesin yang sangat produktif demi kepentingan majikannya. Juga sama seperti ayam negeri.

Falsafah hidup seperti ayam negeri, benar-benar merupakan suatu hal yang menyesatkan, terutama bagi kalangan muda. Orang akan terpedaya dengan perasaan nikmat dalam kehidupan yang terkungkung di antara sisi-sisi tembok beton kantor atau rumahnya yang mewah. Padahal di luar, masih teramat banyak orang yang tidak cukup beruntung untuk

mendapatkan pekerjaan, hidup susah di rumah-rumah kumuh dan pengap.

Falsafah ayam negeri hanya mengajarkan manusia untuk memuja kenyamanan diri semata. Meski tidak ada yang salah untuk memperoleh kesejahteraan, kesenangan dan kemewahan bagi diri dan keluarga, namunpola hidup demikian cenderung membuat orang menjadi figur yang selfish dan egois, selalu mementingkan diri sendiri. Tidak ada lagi rasa prihatin dan empati kepada sesama. Apalagi keinginan berkorban untuk orang lain.

Sindrom kenikmatan juga akan menyebabkan kaum muda kehilangan semangat dan daya juang, sehingga tidak akan mau lagi ikut memikirkan bagaimana berpartisipasi untuk memajukan negara dan bangsa, mengentaskan kemiskinan rakyat jelata dan berbagai aspek social lainnya yang amat dibutuhkan oleh masyarakat banyak.

Di ujung rangkaian dari berbagai kesenangan yang memabukkan itu, akhirnya akan muncullah masalah yang paling berat, yaitu kenyataan bahwa generasi muda akan menjelma menjadi generasi yang ringkih, getas dan sensitif. Generasi yang mudah patah saat dihadapkan pada situasi krisis, sebagai akibat terlalu dimanjakan oleh kenikmatan.

Lagi-lagi sama seperti ayam negeri yang sensitif terhadap berbagai penyakit.

Rusman Hakim

Pengamat Kewirausahaan


Sumber:milis

Toko Istri

on Rabu, 22 Februari 2012




Sebuah toko yg menjual istri baru, dibuka dimana pria dpt memilih wanita untuk dijadikan sebagai seorang istri.

Di antara instruksi2 yg ada di pintu masuk, terdpt instruksi yg menunjukkan bgmn aturan main utk masuk toko tsb: "Kamu hny dpt mengunjungi toko ini SATU KALI!"

Toko tsb terdiri dr 6 lantai dimn setiap lantai akan menunjukkan kelompok calon istri.

Semkn tinggi lantainya, semkn tinggi pula nilai wanita tsb. Kamu dpt memilih wanita di lantai tertnt/lbh memilih ke lantai berikutnya, tp dgn syarat tdk bs turun lg ke lantai sblmnya kecuali utk keluar dr toko.

Lalu, seorang pria pun pergi ke " TOKO ISTRI " tsb untuk mencari istri. Di stp lantai terdpt tulisan spt ini:

Lt 1:
"Wanita di lt ini taat pd Tuhan & pandai memasak."
Pria itu tersenyum, kmd dia naik ke lantai selanjutnya.

Lt 2:
"Wanita di lt ini taat pd Tuhan, pandai memasak & lemah lembut."
Kmbali pria itu naik ke lantai selanjutnya.

Lt 3:
"Wanita di lt ini taat pd Tuhan, pandai memasak, lemah lembut & cantik."
''Wow!'', ujar sang pria, tetapi pikirannya msh penasaran & trs naik.

Lalu smpailah pria itu di lt. 4 n terdpt tulisan:
"Wanita di lt ini taat pd Tuhan, pandai memasak, lemah lembut, cantik banget & syg anak."
''Ya ampun!'' Dia berseru, ''Aku hampir tak percaya!''

Dan dia tetap mlanjutkan ke lt 5:
"Wanita di lt ini taat pd Tuhan, pandai memasak, lemah lembut, cantik banget, syg anak & sexy."

Dia tergoda utk berhenti tp kmd dia melangkah ke lt. 6 & terdpt tulisan:
"Anda adalah pengunjung yg ke 4.363.012.000. Tdk ada wanita di lantai ini. Lantai ini hny semata2 pembuktian utk pria yg tdk pernah puas."
Trm ksh tlh berbelanja di " TOKO ISTRI ". Mohon hati2 ketika keluar dr sini.:)


‎​Pesan moral ini bkn cm utk pria tp jg wanita: "Tetaplah slalu merasa puas akan pasangan yg sudah Tuhan sediakan. Jgn terus mencari yg terbaik, tapi jadikanlah yang sudah Tuhan sediakan menjadi yang terbaik.
‎​‎​itulah pasangan yg terbaik bagi kamu seumur hidupmu hingga maut memisahkan kalian berdua." :)




Sumber : Milis

Ayam Negeri dan Ayam Kampung

on Senin, 20 Februari 2012




Pada suatu hari, seorang ayah dan seorang anak laki-lakinya yang sudah menjelang dewasa tampak sedang bersama-sama memberi makanan pada ayam-ayam peliharaan mereka. Keluarga ini memang memelihara banyak ayam dari berbagai jenis, yang terbagi menjadi dua golongan besar, yaitu ayam kampung dan ayam negeri.

Di sela-sela kesibukan itu, tiba-tiba sang ayah bertanya pada anaknya : "Nak, kalau kau harus memilih, yang mana kau lebih suka, jadi ayam negeri atau jadi ayam kampung?" Sang anak tertegun mendengar pertanyaan tersebut. Ia tidak mampu menjawab.

"Apa maksud ayah?" katanya sejurus kemudian.

"Ini hanya sebuah permisalan. Bila kelak engkau menjadi lebih dewasa nanti, ada dua cara hidup yang bisa engkau pilih, yaitu cara hidup seperti ayam negeri, atau sebagai ayam kampung", jelas ayahnya.

"Ah, aku tahu ! Tentu aku memilih hidup seperti ayam kampung. Ia selalu bebas pergi ke mana saja ia mau..", jawab sang anak dengan antusias.

Si ayah yang bijaksana ini tersenyum sambil membenarkan. "Selain kebebasan, masih banyak hal-hal lain yang bisa kita ambil dari kehidupan ayam kampung, dibanding dengan kehidupan ayam negeri", lanjut ayahnya. Lalu ia mulai berbicara panjang lebar untuk menjelaskan falsafah hidup ayam kampung kepada anak kesayangannya tersebut.

Ayam kampung berbeda terhadap ayam negeri dalam banyak hal. Perbedaan pertama yang telah disebut di atas adalah hal kebebasan. Ayam kampung selalu hidup bebas di alam lepas. Pergi ke sana ke mari mencari makan, bermain, dan bercengkerama. Sementara itu, ayam negeri selalu hidup di kandang yang bagus.

Pada malam hari, ayam kampung tidur seadanya, di mana saja. Tidak perlu di kandang, bahkan acapkali hanya di atas jerami atau pada seutas ranting. Sedangkan ayam negeri siang malam ada di kandang yang nyaman, termasuk waktu tidur. Kandangnya itu, benar-benar dibuat nyaman, bersih karena setiap hari dibersihkan. Kesehatan lingkungannya di jaga, bahkan temperatur ruangan harus selalu diatur dengan nyala lampu agar tetap hangat.

Ayam kampung mencari makan sendiri, berjuang menyibak semak-semak, mengorek sampah, merambah selokan, berpanas dan berhujan menyantap apa saja yang bisa disantapnya. Tidak peduli kotoran dan tidak hirau pelimbahan, demi menyambung hidup yang keras dari hari ke hari.

Ayam negeri di lain pihak, disediakan makanan oleh majikannya dengan makanan khusus. Penuh gizi dan bebas hama . Jadwal teratur, dan tidak boleh menyentuh makanan sembarangan. Sekali-sekali pada waktu- waktu tertentu, ayam negeri juga diberi suntikan agar lebih sehat dan produktif.

Melihat kenyataan itu, tentu terpikir oleh kita bahwa sudah sepantasnya kalau ayam negeri memiliki kelebihan dalam segala hal dibanding ayam kampung. Tapi apa nyatanya? Ayam negeri sangat sensitif. Ada keadaan yang sedikit saja menyimpang dari seharusnya, sakitlah ia. Satu sakit, yang lain pun sakit, dan akhirnya semua mati.
Sebaliknya,. ayam kampung tidak pernah sakit, tubuhnya sehat dan kuat, berkat gemblengan alam. Itu yang membuatnya tidak pernah sakit. Ia pun berjuang setiap hari di alam terbuka, melawan kekerasan alam untuk mencari nafkahnya. Ayam kampung juga memiliki rasa pengorbanan, tidak ragu untuk menyibak semak, mengorek sampah dan
merambah selokan, berpanas dan berhujan sambil membimbing anak- anaknya mencari makan, agar mereka tegar seperti induknya.

Sang ayah yang bijaksana tadi berkata lagi : "Lihat, meski bergelimang berbagai kenyamanan, ayam negeri itu sesungguhnya sudah kehilangan identitas sebagai makhluk yang bebas. Statusnya sudah diubah oleh mahluk lain yang bernama manusia, tidak lagi sebagai mahluk hidup, melainkan sebagai mesin. Mesin yang menghasilkan telur dan daging dalam jumlah besar bagi keperluan manusia.."

Moral apa yang bisa kita serap dari fenomena ayam kampung dan ayam negeri ini?

Manusia bisa berkaca dari cermin kehidupan ayam negeri dan ayam kampung. Dalam bekerja mencari nafkah serta meniti karir, kebanyakan generasi muda menghendaki kehidupan nyaman tidak ubahnya bagai kehidupan ayam negeri. Mendambakan hidup nikmat di mana segala kebutuhannya dipenuhi, jauh dari beratnya perjuangan hidup, jauh dari gemblengan dan tantangan alam, bahkan kalau perlu tidak usah tahu dengan yang namanya cucuran keringat serta beratnya banting tulang.

Sejak selesai sekolah, rata-rata pemuda sudah terpola untuk bisa diterima bekerja di sebuah perusahaan besar, menerima gaji besar, mendapat sejumlah jaminan dan fasilitas-fasilitas tertentu, mampu membeli rumah dan mobil sendiri, serta berkantor di salah satu gedung megah dan mewah di kawasan bisnis bergengsi. Sekolah dianggap sebagai sarana yang memberikannya standar pengakuan sebagai tiket untuk mendapatkan semua itu.

Di sana terselip sebuah pengharapan bahwa, semakin tinggi pendidikan yang ditempuh, semakin tinggi pula jabatan yang akan ia peroleh dari perusahaan, dan mereka mengira, semakin santai pula pekerjaan yang akan diberikan kepadanya. Hidup tenang dengan serba berkecukupan bahkan berkelimpahan.

Tak perlu disangsikan lagi bahwa pedoman hidup yang dianut generasi muda ini, sama dan sebangun dengan liku-liku kehidupan ayam negeri. Mereka menginginkan kenyamanan dan berbagai fasilitas yang diberikan oleh majikan, sama seperti ayam negeri menerima kenyamanan dan berbagai fasilitas dari majikannya.

Mereka menginginkan kesehatan dan jadwal hidup yang serba teratur, sama seperti ayam negeri menerima kesemua itu dari majikannya. Mereka memerlukan perhatian penuh tentang kesejahteraan diri dan keluarga, memerlukan tuntunan dan pimpinan untuk memperlancar tugas dan kewajibannya, sama seperti seperti yang diberikan majikan kepada ayam-ayam negeri itu.

Namun mereka tidak menyadari bahwa pada saat yang sama, mereka telah kehilangan kebebasan dirinya, sebagai hak azasi manusia yang paling hakiki. Mereka tidak bisa lagi pergi dan terbang ke sana ke mari seperti seekor elang di langit lepas. Sama seperti yang dialami oleh ayam negeri. Lebih-lebih lagi, mereka telah kehilangan identitas diri sebagai mahluk hidup, karena status dirinya, disadari atau tidak, telah dirubah menjadi mesin yang sangat produktif demi kepentingan majikannya. Juga sama seperti ayam negeri.

Falsafah hidup seperti ayam negeri, benar-benar merupakan suatu hal yang menyesatkan, terutama bagi kalangan muda. Orang akan terpedaya dengan perasaan nikmat dalam kehidupan yang terkungkung di antara sisi-sisi tembok beton kantor atau rumahnya yang mewah. Padahal di luar, masih teramat banyak orang yang tidak cukup beruntung untuk
mendapatkan pekerjaan, hidup susah di rumah-rumah kumuh dan pengap.

Falsafah ayam negeri hanya mengajarkan manusia untuk memuja kenyamanan diri semata. Meski tidak ada yang salah untuk memperoleh kesejahteraan, kesenangan dan kemewahan bagi diri dan keluarga, namunpola hidup demikian cenderung membuat orang menjadi figur yang selfish dan egois, selalu mementingkan diri sendiri. Tidak ada lagi rasa prihatin dan empati kepada sesama. Apalagi keinginan berkorban untuk orang lain.

Sindrom kenikmatan juga akan menyebabkan kaum muda kehilangan semangat dan daya juang, sehingga tidak akan mau lagi ikut memikirkan bagaimana berpartisipasi untuk memajukan negara dan bangsa, mengentaskan kemiskinan rakyat jelata dan berbagai aspek social lainnya yang amat dibutuhkan oleh masyarakat banyak.

Di ujung rangkaian dari berbagai kesenangan yang memabukkan itu, akhirnya akan muncullah masalah yang paling berat, yaitu kenyataan bahwa generasi muda akan menjelma menjadi generasi yang ringkih, getas dan sensitif. Generasi yang mudah patah saat dihadapkan pada situasi krisis, sebagai akibat terlalu dimanjakan oleh kenikmatan.
Lagi-lagi sama seperti ayam negeri yang sensitif terhadap berbagai penyakit.

Rusman Hakim
Pengamat Kewirausahaan



Sumber : Milis

Mengapa Cincin Pernikahan Selalu Disematkan Di Jari Manis?

on Selasa, 13 Desember 2011


Setiap manusia baik laki-laki atau perempuan pasti menginginkan jika pernikahannya kelak merupakan sebuah peristiwa, dimana dirinya mendapatkan pasangan hidup yang setia baik dalam keadaan suka maupun duka hingga akhir hayatnya. Pada peristiwa sakral tersebut disematkan pula sebuah cincin di jari manis sebagai lambang ikatan cinta dua mempelai.

Apakah kalian tahu mengapa cincin pernikahan ditempatkan pada jari manis (jari keempat) tidak di jari lain?

kenapa hayoo?

Ada yang tau?

penasaran???

Yaudah Cekidot, hehe..

Ada sebuah Legenda Cina yang bisa menjelaskan hal ini, legenda tersebut menyebutkan bahwa setiap jari mewakili setiap anggota keluarga, dengan perincian:
Ibu Jari mewakili orangtua,
Jari Telunjuk mewakili saudara-saudara (adik-kakak) atau temanmu.
Jari Tengah adalah kamu Sendiri
Jari Manis (Jari Keempat) mewakili pasangan hidup
Jari Kelingking mewakili anak-anak.

Untuk membuktikannya, tidak ada salahnya kamu mencoba gerakan di bawah ini:
1. Pertama, tunjukkan telapak tanganmu, jari tengah ditekuk ke dalam (lihat gambar).
2. Kemudian, 4 jari yang lain (Jempol, Telunjuk, Kelingking dan Jari Manis) masing - masing pertemukan ujungnya.


3. Lalu cobalah buka ibu jarimu. Ibu jari yang mewakili orang tua bisa dibuka karena kita akan membentuk suatu keluarga baru. Hal ini berarti kita akan membentuk kehidupan baru yang terpisah dari orangtua.

5. Tutup kembali ibu jarimu, kemudian buka jari telunjukmu. Jari telunjuk mewakili kakak dan adikmu. Jari itu bisa terbuka karena mereka akan memiliki keluarga dan kehidupan sendiri yang terpisah dengan kita.

6. Sekarang tutup kembali jari telunjukmu, buka jari kelingking. Jari kelingking ini yang mewakili anak-anakmu ini juga bisa dibuka. Artinya Cepat atau lambat anak-anak kita juga akan membentuk keluarga dan kehidupan baru yang terpisah dengan kita.

7. Selanjutnya, tutup jari kelingkingmu. Coba buka jari manismu tempat di mana kita menaruh cincin pernikahanmu, kamu pasti heran karena jari tersebut tidak akan bisa dibuka. Jari manis ini mewakili suami dan istri. Artinya, selama hidup kamu dan pasanganmu akan terus bersama satu sama lain dalam menjalani kehidupan.

Itulah alasan cincin kawin disematkan di jari manis. Sehingga kamu dan pasangan akan terus bersama dan tak bisa terpisahkan sampai hari terakhir hidupnya.

Gimana udah tau kan ilmunya, sekarang tinggal prakteknya hehe,,


Tapi sekarang muncul pertanyaan kalau mempelai perempuannya tidak punya jari manis atau bahkan gak punya tangan kira-kira disematkan di jari mana yah cincin pernikahannya?
ada yang tau??
Mari kita bertanya pada inul yang bergoyang.. haha

yaudah Cukup sekian dulu ceritanya ya, terima kasih banget udah berkenan mampir di gubug maya aku ini. jangan bosen2 mampir yah hehe..

:: Berbagai sumber

KOPASSUS - Pasukan Elite Terhebat Ketiga di Dunia


KOPASSUS - TOP ELITE SPECIAL FORCES IN THE WORLD

Discovery Channel Military edisi Tahun 2008 pernah membahas tentang pasukan khusus terbaik di dunia. Seluruh pasukan khusus didunia dinilai kinerjanya dengan parameter menurut pendapat dari berbagai pengamat bidang militer dan ahli sejarah. Posisi pertama di tempati SAS (Inggris), peringkat kedua MOSSAD (Israel) lalu peringkat ketiga adalah KOPASSUS (Indonesia).

Narator dari Discovery Channel Military menjelaskan mengapa pasukan khusus dari amerika tidak masuk peringkat terhormat. Itu karena mereka terlalu bergantung pada peralatan yang mengusung teknologi super canggih, akurat dan serba digital.

Pasukan khusus yang hebat adalah pasukan yang mampu mencapai kualitas sempurna dalam hal kemampuan individu. Termasuk didalamnya kemampuan bela diri, bertahan hidup, kamuflase, strategi, daya tahan, gerilya, membuat perangkap, dan lain lainnya

Kemampuan yang tidak terlalu mengandalkan teknologi canggih dan Skill di atas rata - pasukan luar Elit luar negeri lainnya menjadi nilai plus dari KOPASSUS. Itu pula yang menimbulkan anggapan 1 prajurit KOPASSUS setara dengan 5 prajurit reguler

Mungkin karena itu pula kenapa sekitar Tahun 90-an Amerika Serikat keberatan dan Australia ketakutan ketika Indonesia akan memperbesar jumlah anggota Kopassus.

Hayo sekarang siapa yang tidak kenal dengan Kopassus atau lebih di kenal dengan pasukan baret merah, pasukan khusus milik TNI ini kini merupakan pasukan terbaik ke 3 di dunia setelah SAS (Inggris) dan MOSSAD (Israel). SELAMAT untuk kopassus kita...

Ini adalah sebagian kecil prestasi Kopassus di dunia internasional
Kopassus juga juara satu sniper dalam pertemuan Pasukan Elite Asia Pasific Desember 2006. Dengan hanya mengandalkan senjata buatan Pindad. Wow hebat bukan!!! Nomor duanya SAS Australia.Kopassus menempati urutan 2 (dari 35) dalam hal keberhasilan dan kesuksesan operasi militer (intelijen - pergerakan - penyusupan - penindakan) pada pertemuan Elite Forces in Tactical, Deployment and Assault di Wina Austria. Nomor satunya Delta Force USA.
Negara-negara afrika utara hingga barat sekarang memiliki acuan teknik pembentukan dan pelatihan pasukan elite mereka. 80% pelatih mereka dari perwira-perwira Kopassus.
Pasukan Paspampres Kamboja adalah pasukan Elit yang di latih oleh Kopassus.
Pada perang Vietnam, para tentara Vietkong meniru strategi KOPASSUS dalam berperang melawan Amerika Serikat yang mengakibatkan kekalahan Pasukan Amerika yang mempunyai persenjatan canggih dan lengkap. Kekalahan ini membuat Amerika serikat malu di mata dunia.


hanya dengan melihat lambang ini pasukan militer dunia akan hormat dan tunduk kepada Kopassus karena 1 Pajurit kopassus setara dengan 5 Prajurit Reguler.

Mulai sekarang kita harus bangga menjadi Bangsa Indonesia OK?.....

Sumber : http://sep2sip.blogspot.com

Kisah Tukang Roti dan Petani

on Jumat, 09 Desember 2011



Suatu ketika seorang tukang roti di sebuah desa, membeli 1 kg mentega dari seorang petani.
Ia curiga bahwa mentega yang dibelinya tidak benar-benar seberat 1 kg. Beberapa kali ia menimbang mentega itu, dan benar, berat mentega itu tidak penuh 1 kg. Yakinlah ia bahwa petani itu telah melakukan kecurangan. akhirnya Ia melaporkan petani tersebut kepada hakim, dan petani itupun akhirnya dimajukan ke sidang pengadilan.

Pada saat sidang, hakim berkata pada petani, "kau adalah petani yang menjual mentega, tentu kamu mempunyai timbangan?"
"tidak, tuan hakim," jawab petani.

"lalu, bagaimana kamu bisa menimbang mentega yang kamu jual itu?" Tanya hakim.
Petani itu menjawab, "ah, itu mudah sekali dijelaskan, Tuan hakim. Untuk menimbang mentega seberat 1 kg itu, sebagai penyeimbang, aku gunakan saja roti seberat 1 kg yang aku beli dari tukang roti itu"

setelah mendapat penjelasan dari petani tersebut hakim memutuskan bahwa tukang rotilah yang bersalah karena telah mengelabuhi petani.


Sumber :http://www.apasih.com

Linus Torvalds (Sang Penemu Linux)

on Kamis, 01 Desember 2011



Linus Torvalds adalah salah seorang programmer yang terkenal di dunia., Ia dilahirkan di kota Helsinki, Finlandia pada tanggal 28 Desember 1969 dari pasangan Nils dan Mikke Torvalds. Nama lengkapnya adalah Linus Benedict Torvalds, nama ini diberikan oleh ayahnya terinspirasi dari nama seorang Linus Pauling yang merupakan pemenang hadiah nobel di bidang kimia dan perdamaian. Keluarga Torvalds merupakan kelompok minoritas di Finlandia yang berbahasa swedia, yaitu sekitar 300.000 jiwa di tengah-tengah populasi penduduk Finlandia saat itu yang berjumlah sekitar lima juta jiwa.

Masa kecil Torvalds layaknya anak-anak saat itu, dia cukup bahagia meskipun pada kenyataanya kedua orang tuanya bercerai di waktu muda, yang menjadikannya harus tinggal bersama ibu dan kakek neneknya.

Sebenarnya saat itu sebagian besar keluarganya berprofesi sebagai wartawan, ayahnya pun selalu membujuknya agar dirinya tertarik untuk mengikuti kegiatan-kegiatan sosial. Namun Leo Toerngvist, kakeknya dari jalur ibu yang merupakan seorang profesor statistik di Universitas Helsinki, menjadikan Torvalds tidak tertarik pada ajakan ayahnya itu. Dia lebih tertarik untuk mempelajari matematika dan dunia programming komputer.

Berawal pada pertengahan 1970-an, saat itu kakek Torvalds membeli komputer pribadi pertamanya. Yaitu komputer Commodore Vic-20, yang kecepatannya hanya 1 MHz. Dari komputer inilah Torvalds mulai mempelajari bahasa pemrograman tingkat rendah (low level code). Jenis bahasa ini membuat komputer lebih gampang bekerja, namun membuat programmer berpikir lebih keras. Ini semua sebenarnya tidak serta-merta karena Torvalds hobi, tapi karena dia sendiri tidak mampu untuk meng-upgrade komputernya. Torvalds memang terpaksa harus selalu men-tweak atau meningkatkan performa komputernya setiap kali performa komputernya drop. Kebiasaan seperti inilah yang membuatnya pintar untuk menyiasati performa komputer kelas rendah. Ini pula yang membuat Linux nantinya menjadi program komputer yang mampu berjalan optimal di komputer dengan spesifikasi minimum.

Menciptakan Linux

Pada tahun 1987 Torvalds menghabiskan tabungannya untuk membeli sebuah komputer Sinclair QL, komputer bikinan Sir Clive Sinclair. Komputer ini lebih bagus dibanding komputer Commodore Vic-20 milik kakeknya. Karena komputer itu mengajarinya hal lain, yaitu multitasking, sebuah prinsip kerja komputer yang dapat mengerjakan beberapa pekerjaan sekaligus dalam waktu yang sama. Prinsip multitasking ini juga menginspirasinya dalam mengembangkan Linux kelak.
Pada tahun 1988 Torvalds mengikuti jejak orang tuanya untuk melanjutkan studinya ke Universitas Helsinki, yang merupakan perguruan tinggi terkemuka di Finlandia. Akan tetapi keasyikannya bermain-main dengan komputer, membuat dirinya kurang percaya diri dalam proses belajar di kampus. Torvalds menjadi mahasiswa yang pemalu, meskipun hanya untuk maju dan berbicara di depan kelas. Bahkan, saking pemalunya dia tidak berani untuk bertanya apapun pada dosennya di masa-masa awal kuliah. Teman dekatnya hanyalah Lars Wirzenius, karena keduanya mempunyai kegemaran yang sama yaitu bermain-main dengan komputer. Hingga akhirnya setelah kuliah selama 1 tahun, Torvalds diharuskan untuk mengikuti program pelatihan kepemimpinan di kampusnya. Dalam pelatihan tersebut, Torvalds belajar untuk menangani kelompok sebagai sebuah unit kerja yang solid. Hal ini juga menjadi bekalnya untuk menangani model pengembangan software di komunitas Linux kelak. Seolah semua jalan sudah mengarahkannya ke sana.

Pada tahun 1990 Torvalds mengambil kelas bahasa pemrograman C. Disana ia mulai menyukai sistem operasi Unix yang terinstal di laboraturium komputer kampusnya, Universitas Helsinki. Sebagaimana sistem operasi, saat itu Unix adalah sistem operasi yang paling stabil dan menjadi acuan industri komputer. Selama berbulan-bulan ia dan rekannya Lars Wirzenius mempelajarinya. Tapi mereka hanya bisa melakukannya di kampus, karena Unix bukanlah sistem operasi yang murah. Sehingga di rumah Torvalds hanya bisa bertemu dengan mesin Sinclair QL-nya lagi.
Torvalds akhirnya mulai melirik Minix, kloningan Unix yang dapat berjalan di PC. Untuk membantunya memperdalam pemahaman mengenai Unix, Ia memesan buku "Operating System" karya Andre Tannenbaum, yang berisikan tentang latihan penulisan sistem operasi, selain itu buku tersebut juga menyertakan Minix sebagai bahan latihanya.

Sambil menanti pesanannya tiba, Torvalds membeli PC pada 5 Januari 1991 dari uang hadiah Natal, dengan Spesifikasi 386, DX33, memori 4MB dan harddisk 40MB. Ia terpaksa menjalankan DOS untuk beberapa bulan sebelum disket-disket Minix tiba. Dan Torvalds pun mulai bermain-main dengan pemrograman DOS di PC. Hal ini juga yang menjadikan Torvalds memahami arsitektur komputer berprosesor Intel.

Akhir Maret 1991 pesanannya tiba dan ia langsung menginstal Minix ke komputernya. Bukan tanpa kendala, dia harus berjibaku dulu dengan komputernya untuk mengintsal Minix, tapi Torvalds adalah seseorang yang mempunyai kemampuan belajar cepat, sehingga dia akhirnya bisa menginstal Minix di komputernya. Selain itu berkat bergabungnya dia ke milis minix, ia pun bisa belajar lebih banyak untuk semakin mengenali kloningan dari Unix ini. Apalagi, source code dari Minix memang terbuka, jadi ia bisa mengetahui kerja sistem operasi itu dan bisa memperbaiki berbagai bug yang ada. Ia ingin membuat Minix miliknya menjadi lebih baik dan sesuai dengan kebutuhannya. Namun, kenyataanya yang terjadi tak seperti yang ia harapkan, dia masih tetap harus bertemu berbagai bugs atau program-program error di komputernya. Akan tetapi hal ini yang membuatnya tiba-tiba saja berpikir untuk membuat sistem operasi lain dengan prinsip kerja yang mirip dengan Minix. Apalagi berkat buku Tannenbaum, pengetahuannya soal penulisan sistem operasi sudah cukup lumayan. Pemikiran tersebutlah yang merupakan langkah pertamanya untuk merintis apa yang kini orang kenal sebagai "Linux".

Linux Sebagai Sistem Operasi Yang Open Source

Kebetulan, masa libur musim panasnya tiba. Walupun pengumumannya hanya tiga bulan yaitu Juni sampai Agustus, namun pada kenyataannya, kuliahnya libur semenjak pertengahan Mei hingga pertengahan September. Praktis, Torvalds punya waktu yang sangat luang untuk memulai proyeknya itu. Apalagi pendidikan universitas di Finlandia gratis dan tidak ada tekanan untuk lulus dalam waktu empat tahun, sehingga menjadikannya begitu bersemangat untuk mewujudkan proyeknya itu.

Di awal-awal liburannya ia melakukan coding selama 10 jam tiap hari, tanpa mengambil waktu 1 hari pun untuk beristirahat di akhir pekan. Akhirnya dalam dua bulan kemudian, Torvalds membuat banyak kemajuan. Atas bantuan teman sejawatnya, Ari Lemmke, ia pun mendapat tempat di FTP server milik universitas. Sehingga, kalau-kalau Torvalds akan merilis proyeknya itu, orang bisa segera men-download-nya. Saat itu Lemmke membuat folder /pub/os/linux di server nic.funet.fi. Nama Linux sebenarnya nama sementara, karena Torvalds tidak ingin disebut egomaniak dengan memberi nama proyeknya mirip dengan nama aslinya itu. Ia berencana mengubahnya. Di saat-saat sulit, Torvalds kadang menyebutnya dengan sebutan "Buggix", karena programnya memang masih dipenuhi bug. Pernah juga terlintas di kepalanya nama seperti Freax, yang merupakan gabungan kata dari freak, free, dan x. Tapi rupanya Lemmke menolak semua alternatif nama yang Torvalds tawarkan. Walau belum ada isinya, nama folder itu tidak pernah berubah, bahkan hingga ia mengumumkan proyek kecilnya itu ke milis pengguna Minix, pada Minggu, 25 Agustus 1991. Orang mengingat hari itu sebagai hari yang sangat berarti bagi sejarah Linux.
Berikut adalah email yang dikirimkan Torvalds ke milis pengguna minix


Message-ID: 1991Aug25.205708.9541@klaava.helsinki.fi
From: torvalds@klaava.helsinki.fi (Linus Benedict Torvalds)
To: Newsgroups: comp.os.minix
Subject: What would you like to see most in minix?
Summary: small poll for my new operating system
Hello everybody out there using minix-
I'm doing a (free) operating system (just a hobby, won't be big and professional like gnu) for 386 (486) AT clones. This has been brewing since april, and is starting to get ready. I'd like any feedback on things people like/dislike in minix, as my OS resembles it somewhat (same physical layout of the file-sytem due to practical reasons)among other things.
I've currently ported bash (1.08) an gcc (1.40), and things seem to work. This implies that i'll get something practical within a few months, and I'd like to know what features most people want.
Any suggestions are welcome, but I won't promise I'll implement them :-)
Linus Torvalds torvalds@kruuna.helsinki.fi

kira-kira seperti ini kalau diterjemahkan ke dalam dialog bahasa Indonesia bebas.

Hallo semua pengguna Minix.

Saya sedang mengerjakan sebuah sistem operasi (free) untuk kloning 386(486) AT.
Cuma hobi kok, tak akan besar dan profesional seperti GNU. saya mengerjakannya sejak April dan kini sudah mulai siap.

Saya ingin tahu (fitur) apa yang Anda ingin/tidak inginkan dari Minix, karena sistem operasi saya sedikit banyak memang mirip dengan Minix.
Saran Anda pasti saya terima, tapi belum tentu saya terapkan, lho :-)",

Linus Torvalds torvalds@kruuna.helsinki.fi

Seketika, para hacker di seluruh dunia mulai meresponnya dan bersedia untuk menjajal hasil kerja Linus itu. Namun saat itu Torvalds belum menyadarinya, karena ia merasa hanya merilisnya pada sekitar 10 - 15 hacker yang merespon e-mail-nya waktu itu.
Pada bulan September 1991, Linux 0.0.1 keluar sebagai versi beta dan Torvalds menaruhnya di server Universitas yang telah disiapkan sebelumnya. Tak lama kemudian, pada 5 Oktober, ia mengumumkan versi 0.02 sebagai versi resmi pertama yang mampu menjalankan kedua shell bush (suatu perintah yang berbasis teks seperti dalam sistem operasi UNIX) dan GCC (GNU C Compiler) yang merupakan 2 sistem utilitas kunci dalam sebuah sistem operasi.
Beginilah isi pengumumannya waktu itu :


Do you pine for the nice days of minix-1.1, when men were men and wrote their own device drivers?

Are you without a nice project and just dying to cut your teeth on a OS you can try to modify for your needs?

Are you finding it frustrating when everything works on minix?

No more all-nighters to get a nifty program working?
Then this post might be just for you :-)

As I mentioned a month(?) ago,
I'm working on a free version of a minix-lookalike for AT-386 komputers.
It has finally reached the stage where it's even usable (though may not be depending on what you want), and I am willing to put out the sources for wider distribution. It is just version 0.02 (+1 (very small) patch already), but I've successfully run bash/gcc/gnu-make/gnu-sed/compress etc under it.

Sources for this pet project of mine can be found at nic.funet.fi (128.214.6.100) in the directory /pub/OS/Linux.

The directory also contains some README-file and a couple of binaries to work under linux (bash, update and gcc, what more can you ask for :-).

Full kernel source is provided, as no minix code has been used. Library sources are only partially free, so that cannot be distributed currently. The system is able to compile "as-is" and has been known to work. Heh. . . .


Ari Lemmke, Torvalds' friend and the administrator for ftp.funet.fi, a provider of FTP (file transfer protocol) services in Finland, encouraged him to upload his source code to a network so it would be readily available for study and refinement by other programmers, a common practice then as it is no

Kurang lebih seperti ini jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia bebas.

Apakah Anda merindukan hari yang bagus untuk minix-1.1, ketika para laki-laki menciptakan driver perangkat mereka sendiri?
Apakah Anda tidak memiliki proyek yang bagus dan menyerah saat memotong gigi anda (pengalaman pertama) mencoba untuk memodifikasi OS sesuai kebutuhan anda?

Apakah Anda merasa frustasi ketika semuanya bekerja di minix?
Dan anda yang sedang begadang tidak mendapat program kerja yang bagus lagi?
Maka postingan ini mungkin sangat special untuk Anda :-)

Seperti yang saya sebutkan sebulan (?) yang Lalu, saya sedang bekerja pada sebuah versi gratis dari system operasi yang mirip dengan minix untuk AT-386 komputer. Yang akhirnya mencapai tahap di mana sistem operasi tersebut dapat digunakan (meskipun mungkin tidak seperti yang anda inginkan),
dan saya bersedia untuk menyebarkan source codenya untuk distribusi yang lebih luas. Ini hanya versi 0.02 (+1 (sangat kecil) masih berbentuk patch),
tapi saya telah sukses menjalankan bash / gcc / gnu-make / gnu-sed / compress dll di bawah itu.

Source kode dari proyek saya ini dapat ditemukan di alamat nic.funet.fi (128.214.6.100) di direktori / pub / OS / Linux.

Direktori ini juga berisi beberapa file README dan sepasang biner untuk bekerja di bawah linux (bash, update dan gcc, apa yang anda minta :-).

Disediakan pula source code penuh Kernel, karena selama ini tidak ada kode minix yang didistribusikan secara bebas yang ada hanyalah sebagian sumber kodenya saja. Sehingga tidak bisa didistribusikan secara bebas.

Sistem ini mampu mengkompilasi "apa adanya" dan telah diketahui mampu bekerja. Heh. . . .

Ari Lemmke, teman Torvalds 'dan administrator untuk ftp.funet.fi, penyedia layanan FTP (file transfer protocol) di Finlandia, mendorongnya untuk mengupload source kode ke jaringan sehingga akan tersedia untuk dipelajari dan diperbaiki oleh programmer lainnya, sebuah hal yang biasa dalam dunia komputer.

Pengumuman peluncuran Linux versi 0.02 tersebut kini dikenal sebagai peluncuran proyek sistem operasi terbesar sepanjang sejarah.
Sejak itu, respon dari bug fix terus berdatangan. Para hacker bergotong royong menghidupkan Linux. Torvalds pun secara bertahap menyortir semua itu dan menyatukannya menjadi rilis terbaru Linux. Update pun menjadi sedemikian sering. Namun, apa yang dikerjakan Torvalds saat itu belum bisa disebut sistem operasi yang lengkap, karena yang ia bangun hanyalah kernel dari sistem operasi. Agar bisa benar-benar berfungsi, orang memerlukan program-program lainnya seprti shell, compiler, library, dan sebaginya. Dan Torvalds menunjuk software berbendera GNU sebagai aplikasi yang sering ia pakai dengan Linux.

Pada saat yang sama Richard Stallman dan Free Software Foundation-nya memang tengah menyusun sebuah sistem operasi lengkap yang mirip dengan Unix, namun free. Mereka namakan proyeknya sebagai GNU (GNU's not Unix). Berbeda dengan Linux, sejak 1984 mereka mulai dengan menyusun berbagai aplikasi dan library-nya dulu. Sementara kernelnya sendiri, Hurd, belum selesai.
Bagai kopi ketemu gula. Para hacker dan pemakai software GNU menginstal Linux dan menyatukannya dengan software GNU. Bagi Stallman, ini sebuah keajaiban yang menolong tegaknya perjuangan free software yang digagasnya. Mimpinya akan free software yang mandiri terwujud berkat Linux. Begitulah sistem operasi GNU/Linux pun lahir. Memang orang sering menyebutnya sebagai Linux saja. Tetapi akan kurang fair rasanya bila kita menanggalkan peran Richard Stallman dan inisiatif GNU-nya dari sana.

GNU/Linux terus berkembang seiring bertambahnya para pemakai komputer yang menggunakannya. Apalagi walaupun hak cipta Linux berada di tangannya, namun Torvalds tetap memperbolehkan orang lain untuk menyalin, menggunakan dan mendistribusikan Linux secara bebas, bahkan gratis. Torvalds memang menggunakan GPL (GNU General Public License).
Dalam sebuah wawancara dengan First Monday, sebuah Jurnal di Internet dirinya mengaku bahwa keputusannya untuk melepas Linux secara cuma-cuma adalah satu-satunya keputusan terbaik yang pernah ia buat.

Sebagai bentuk apresiasi terhadap hasil karyanya, Torvalds ditunjuk sebagai instruktur di Universitas Helsinki, sebuah posisi yang memungkinkan dia untuk melanjutkan proyek Linuxnya. Saat itu tugas pertama yang ia berikan dalam pelajaran pengantar di kelas komputer pada tahun 1993 adalah memerintahkan setiap mahasiswanya untuk mengirimkan e-mail kepadanya. Saat itu Tove Minni, salah satu mahasiswi yang jago karate, mengiriminya sebuah e-mail yang meminta Torvalds untuk menemaninya jalan-jalan. Dan akhirnya Torvalds pun menerima permintaan mahasiswinya itu.

Disisi lain ternyata seiring perkembangan Linux sebagai sistem operasi yang Open Source, berbagai distribusi (distro) GNU/Linux lahir dan berkembang menjadi perusahaan besar. Red Hat dan Mandrake adalah salah satu yang mereguk keuntungan dari pasar yang mulai terjangkit GNU/Linux ini. Walau angka pengguna GNU/Linux sendiri belum terpetakan, namun di akhir 90-an, orang melihat GNU/Linux sebagai ancaman serius bagi sistem operasi Windows. Bahkan para pejabat Microsoft sendiri agaknya kebakaran jenggot. Hal itu tampak dari dokumen Haloween yang tak sengaja tersebar ke publik, yang berisi strategi mereka untuk mematikan Linux. Berbeda dengan para aktivis Free Software atau Open Source yang bersuara sangar, Torvalds sendiri menyikapi hal itu dengan tetap low-profile. Ia dengan segala kerendahan hati dan jiwa besarnya, melepaskan semua itu pada komunitas Linux, Torvalds memilih tantangan lain dengan menikahi Tove Torvalds, mahasiswinya yang jago karate. Tak lama kemudian Torvalds memboyong keluarganya ke Amerika, tempat Microsoft berdiri.

Pada bulan desember 1996, meskipun bersamaan dengan bulan kelahiran anak pertamanya, Torvalds masih mampu untuk merilis Linux versi 2.00.Hal ini merupakan sebuah peningkatan besar dalam sistem operasi GNU/Linux. Di tahun itu para pengembang merasa Linux sudah membutuhkan sebuah logo, akhirnya diputuskan bahwa logo dari Linux adalah sebuah penguin yang bernama TUX. Logo yang lucu ini didapat dari cerita Torvalds yang saat itu sedang berlibur ke daerah selatan, dan tiba-tiba sebuah penguin menggigit jarinya, kejadian unik itulah yang kemudian menginspirasi para pengembang Linux untuk menjadikannya sebagai logo dari Linux. Adapun nama TUX sendiri berasal dari kata Torvalds Unix, sehingga mulai saat itu penguin yang bernama TUX resmi menjadi logo dari Linux. Setelah itu versi-versi yang baru pun terus dirilis dan pengguna-pengguna Linux terus bertambah.



Sejalan dengan perkembangan linux yang begitu pesat, seringkali orang-orang membandingkan Linus Torvalds dengan Bill Gates. Jika dilihat dari kemiripannnya memang dua-duanya adalah programmer handal yang sama-sama memakai kaca mata, akan tetapi antara Torvalds dan Bill Gates memiliki perbedaan yang sangat mendasar. Bill Gates adalah orang yang selalu mengkomersilkan hasil karyanya untuk menambah pundi-pundi hartanya, sedangkan Torvalds lebih suka mendedikasikan kemampuannya untuk perkembangan perangkat lunak bebas (open source). Dia hidup hanya dengan gaji rata-rata programmer, dan tinggal bersama keluarganya di sebuah rumah sederhana. Dalam hatinya Torvalds tidak pernah berambisi untuk mengumpulkan kekayaan ataupun kekuasaan, kiprahnya dalam perkembangan linux semat-mata karena dia mencintai dunia programming, dan semua itu dia lakukan hanya untuk having fun/bersenang-senang saja tidak lebih dari itu. Walaupun demikian dia tidak munafik kalau dirinya juga membutuhkan uang.

Dialah Linus Torvalds, seorang Programmer sejati yang begitu bersahaja. yang merelakan hasil kerja kerasnya untuk dibagi-bagi pada programmer lain dengan cuma-cuma. Dia lebih memilih diam dan mengalah ketika pihak-pihak lain yang berusaha menjatuhkannya. Dan tidak berambisi mencari kekayaan ataupun nama besar. Namun pada akhirnya justru berkat kesederhanaannya itulah, linux bisa berkembang pesat seperti saat ini, yang secara tidak langsung ikut membesarkan namanya juga. Terima kasih Torvalds atas segala dedikasi dan sifat-sifat ketauladanan yang telah anda ajarkan. Selamat berjuang dan semoga tuhan selalu memberkati anda.

.:Fhd
Berbagai sumber

Apakah Ayahmu Seperti Ini?

on Rabu, 12 Oktober 2011


Dalam suatu kereta seorang pemuda bertanya pada seorang bapak
disampingnya, "Jam berapa sekarang Pak ? "

Sungguh diluar dugaan , si Bapak diam saja , menoleh pun tidak. Mengira
sang bapak tidak mendengar, pemuda tsb. mengulanginya sampai 3 kali,
namun si Bapak diam tidak bergeming sedikitpun.

Merasa kesal , si pemuda akhirnya mencolek bapak tsb. dan berkata "Saya
heran mengapa bapak tidak menjawab pertanyaan saya ??, apa sih susahnya"
katanya sambil melengos.
Belum habis dia melengos, si bapak mulai berbicara "Bukannya saya nggak
mau menjawab, tapi nanti kalau saya jawab , kita pasti ngomong-ngomong
soal ini , soal itu , terus nanti kita jadi akrab"

Si pemuda melongo mendengar ceramah si bapak, " Lalu apa salahnya kalau
kita akrab ?"
Si bapak menjawab "Nanti anak gadis dan istri saya akan menjemput saya
di Gambir, kalau kita sudah akrab, nanti kita akan turun sama -sama ,
terus saya pasti memperkenalkan mereka sama kamu. Nah, istri saya tuh
orangnya baik sekali sama semua orang , nanti dia pasti menawarkan kamu
mampir kerumah, nanti kamu mandi dirumah saya, terus makan dirumah saya, kemudian kamu lama-lama bisa akrab dengan anak gadis saya dan kamu
bisa jadi pacar anak saya dan lama-lama kamu bisa jadi menantu saya."

Sang pemuda yang tadi sudah bingung sekarang makin bingung, lantas dia
bertanya "Terus apa hubungannya dengan pertanyaan saya yang pertama ?"
Sambil berdiri dengan lantang bapak tersebut menjawab "Masalahnya anak
muda, SAYA TIDAK MAU PUNYA MENANTU SEPERTI KAMU, JAM TANGAN AJA NGGAK
PUNYA , BAGAIMANA MAU MEMBAHAGIAKAN ANAK SAYA ?? "


::Berbagai Sumber::

Koin Penyok



Seorang lelaki berjalan tak tentu arah dgn rasa putus asa. Kondisi finansial keluarganya morat-marit.

Saat menyusuri jalanan sepi, kakinya terantuk sesuatu. Ia membungkuk dan menggerutu kecewa. “Uh, hanya sebuah koin kuno yg sudah penyok.” Meskipun begitu ia membawa koin itu ke bank.

“Sebaiknya koin in dibawa ke kolektor uang kuno,” kata teller itu memberi saran. Lelaki itu membawa koinnya ke kolektor. Beruntung sekali, koinnya dihargai 30 dollar.

Lelaki itu begitu senang. Saat lewat toko perkakas, dilihatnya beberapa lembar kayu obral. Dia pun membeli kayu seharga 30 dollar utk membuat rak buat istrinya. Dia memanggul kayu tersebut dan beranjak pulang.

Di tengah perjalanan dia melewati bengkel pembuat mebel. Mata pemilik bengkel sudah terlatih melihat kayu bermutu yg dipanggul lelaki itu. Dia menawarkan lemari 100 dollar utk menukar kayu itu. Setelah setuju, dia meminjam gerobak utk membawa pulang lemari itu.

Di tengah perjalanan dia melewati perumahan baru. Seorang wanita melihat lemari yg indah itu dan menawarnya 200 dollar. Lelaki itu ragu-ragu. Si wanita menaikkan tawarannya menjadi 250 dollar. Lelaki itupun setuju dan mengembalikan gerobaknya.

Saat sampai di pintu desa, dia ingin memastikan uangnya. Ia merogoh sakunya dan menghitung lembaran bernilai 250 dollar. Tiba-tiba seorang perampok keluar dari semak-semak, mengacungkan belati, merampas uang itu, lalu kabur.

Istrinya kebetulan melihat dan berlari mendekati suaminya seraya bertanya, “Apa yg terjadi? Engkau baik saja kan? Apa yg diambil oleh perampok tadi?”

Lelaki itu mengangkat bahunya dan berkata, “Oh, bukan apa-apa. Hanya sebuah koin penyok yang kutemukan tadi pagi”.

Demikianlah Allah telah mengatur hak-hak kita.... Bila kita sadar kita tak pernah benar2 memiliki apapun, kenapa saat kehilangan kita harus tenggelam dalam kepedihan yang berlebihan?
Bersyukurlah dgn apa yg kita miliki saat ini

::Sumber Milis::

Humor 17'an

on Selasa, 16 Agustus 2011


Suatu ketika ada orang Madura yg terkenal gokil, mengikuti lomba nyanyi tentang lagu Hari Kemerdekaan;

orang Madura; "Enam belas Agustus tahun empat lima ..."

Juri; "Salah itu ... ulangi !"

orang Madura; "Enam belas Agustus tahun empat lima ..."

Juri : "Salah ... kesempatan terakhir !"

Orang Madura; "Saya ndak salah pak, sampeyan dengar saya nyanyi dulu."

Akhirnya juri serius mendengarkan.

orang Madura; "Enam belas Agustus tahun empat lima...

BESOKNYA hari Kemerdekaan kita..."




Juri ; ?????




Just Kidding n' enjoy the Moment...






::sumber; Milis

Kisah Raja Yang Bijaksana

on Sabtu, 13 Agustus 2011




Ditulis pada Agustus 6, 2011
Oleh Komaruddin Hidayat









Alkisah, hidup seorang raja kaya raya dan dicintai rakyat, tetapi sudah mulai uzur sehingga harus menyerahkan takhta kerajaan kepada calon putra mahkotanya. Namun, raja ragu. Benarkah putranya sudah siap menerima tugas berat dan muliaitu?

Untuk menepis keraguan itu, Sang Raja ingin menguji putranya apakah layak dipercaya untuk memikul beban yang begitu berat sebagai calon penggantinya. Maka dipanggillah dia, dinasihati dan diberi tahu bahwa takhta kerajaan ini akan segera dilimpahkan kepadanya. Namun, sebelum itu, Sang Raja menyuruh putranya bersemadi dan tinggal di hutan setahun.

Tiba hari yang ditetapkan, berangkatlah putra mahkota itu dengan bekal dan pengawal sekadarnya. Dalam bulan-bulan pertama dia bingung. Apa yang sesungguhnya dikehendaki oleh ayahnya dan apa yang mesti dilakukan di hutan?
Maka, selain bersemadi, dia juga mengamati berbagai ragam pohon dan hewan penghuni hutan sehingga mengenal beragam buah-buahan dan rasanya. Dia pun mengenal aneka hewan dan suaranya serta jenis makanannya.

Putra mahkota tadi menghitung hari dan bulan, kapan saatnya kembali ke kerajaan menghadap ayahnya lalu dinobatkan di depan rakyat sebagai raja. Singkat cerita, setelah genap setahun, putra mahkota pulang dengan gembira, membayangkan pesta pengangkatan sebagai raja muda yang akan dikelilingi oleh wanita-wanita cantik serta pengawal yang selalu melayani dan menjaganya.

Setiba di kerajaan, setelah istirahat dan beradaptasi dengan kehidupan di lingkungan istana, ayahnya memanggil dan bertanya, ”Coba ceritakan kepadaku pengalaman apa yang kau dapatkan setelah setahun bermeditasi dan tinggal di hutan.” Putra mahkota menjawab dan menjelaskan panjang lebar tentang beragam tumbuhan dengan aneka ragam bunga dan buahnya serta rasanya. Selain itu, aneka ragam hewan, dari warnanya, makanannya, hingga suaranya.

Setelah selesai menceritakan pengalamannya dengan semangat dan panjang lebar, ayahnya berkata, ”Engkau mesti pergi lagi setahun tinggal di hutan. Aku belum yakin engkau akan mampu menerima amanat sebagai raja menggantikan diriku. Minggu depan engkau mesti pergi lagi.”

Dengan hati gundah dan pikiran bingung, putra mahkota pergi lagi ke hutan. Dia berpikir keras, apa yang kurang dan apa yang dikehendaki ayahnya sehingga dirinya mesti kembali lagi hidup di hutan. Sesampai di hutan dia melakukan meditasi dan perenungan kemudian mengisi hari-harinya dengan menikmati udaranya yang sejuk dan bau harum bunga serta mendengarkan suara berbagai hewan.

Pada tahun kedua ini, dia lebih jeli. Semakin tajam mata, telinga, dan intuisinya mengamati serta membaca apa pun yang ada di sekitarnya. Sampai-sampai dia mampu memahami bahasa hewan dan tumbuhan-tumbuhan serta isyarat alam. Bahkan, ia sudah mampu membaca tanda-tanda kalau akan terjadi bencana alam. Merasa sudah menyatu dengan alam, putra mahkota tadi semakin betah dan tidak berpikir lagi hendak pulang ke istana. Sampai-sampai setelah setahun berlalu, karena putranya belum juga pulang, sang ayah mengirim utusan untuk menjemputnya.

Banyak topeng di istana
Setelah cukup istirahat, Sang Raja bertanya kepada anaknya yang diharapkan menjadi peng- gantinya mengenai pengalaman apa saja yang didapat setelah dua tahun tinggal di hutan. Maka, sang anak pun bercerita panjang lebar bahwa pada tahun kedua tersebut dia semakin betah di hutan karena merasa telah menyatu dengan semua penghuni hutan. Bahkan, dia sudah memahami semua bahasa hewan, tumbuh-tumbuhan, air, api, serta angin.

Wajah sang ayah pun menjadi ceria karena merasa berhasil mempersiapkan calon pengganti raja. ”Ketahuilah anakku,” kata sang ayah, ”menjadi pemimpin itu harus mampu mendengarkan apa yang tidak terucapkan. Mampu melihat apa yang tidak terlihat. Mampu membaca apa yang tidak tertulis. Kalau kamu sudah mampu membaca dan mendengarkan suara serta perilaku alam, itu merupakan modal besar bagimu untuk menjadi pemimpin di negeri ini.”

”Ketahuilah anakku,” tutur sang ayah, ”dari zaman ke zaman antara istana dan rakyat itu selalu terdapat tembok yang membatasi sehingga, jika kamu tidak memiliki ketajaman hati, pikiran, dan intusisi, kamu tidak akan memahami apa yang tengah dirasakan dan dipikirkan rakyatmu. Kamu tidak akan paham apakah rakyatmu mencintaimu atau membencimu.”
”Ketahuilah anakku,” ujar sang ayah lagi, ”istana itu ibarat gudang madu dan segala makanan yang enak, yang mengundang semut, tikus, dan berbagai hewan akan mendekat untuk ikut menikmatinya. Ingat dan pegang teguh pesanku ketika suatu saat kamu telah duduk menggantikan posisiku.”

”Tidak semua yang ada di sekelilingmu adalah teman setiamu karena teman sejati baru akan ketahuan ketika kamu menangis, ketika kamu dalam bahaya, bukannya ketika kamu senang-senang berpesta ria. Orang-orang di sekelilingmu akan selalu memuji kamu sehingga kamu jarang mendengarkan kritik serta kata tidak di istana ini.”

”Asah terus ketajaman mata, telinga, pikiran, dan kebeningan hati yang telah engkau latih selama kamu tinggal di hutan belantara karena di istana akan kamu temui orang-orang yang bertopeng sehingga kamu harus mampu membaca hati dan pikiran yang tersembunyi di belakangnya.”

Mendengar nasihat sang ayah, putra mahkota baru menyadari betapa orangtuanya sangat bijak serta sangat mencintai negeri dan rakyatnya. Di balik pakaian kebesarannya sebagai raja, ayahnya ternyata memiliki hati yang sangat lembut, yang mudah tersayat ketika melihat dan mendengar rakyatnya menangis karena sakit atau lapar.

Rupanya ayahnya juga sering mengenakan topeng, pergi menyamar mendengarkan obrolan rakyatnya dari dekat karena apa yang dilihat dan didengarkan di istana sangat jauh berbeda daripada realitas di luarnya.

Semoga puasa Ramadhan ini akan mempertajam kembali pancaran hati nurani kita, terutama bagi siapa pun yang hendak atau tengah memegang jabatan sebagai pemimpin di negeri ini.
Komaruddin Hidayat
Rektor UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta







:: Sumber : Milis Yg Penulis Ikuti